Budidaya Lele

BUDIDAYA LELE /CLARIAS

1. SEJARAH SINGKAT

Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.

2. SENTRA PERIKANAN

Ikan lele banyak ditemukan di benua Afrika dan Asia. Dibudidayakan di Thailand, India, Philipina dan Indonesia. Di Thailand produksi ikan lele ± 970 kg/100m2/tahun. Di India (daerah Asam) produksinya rata-rata tiap 7 bulan mencapai 1200 kg/Ha.
3. JENIS
Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986)
adalah:

  • Kingdom : Animalia
  • Sub-kingdom : Metazoa
  • Phyllum : Chordata
  • Sub-phyllum : Vertebrata
  • Klas : Pisces
  • Sub-klas : Teleostei
  • Ordo : Ostariophysi
  • Sub-ordo : Siluroidea
  • Familia : Clariidae
  • Genus : Clarias

Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat dikembangkan:

  1. Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
  2. Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).
  3. Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).
  4. Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).
  5. Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang Kalimantan Timur).
  6. Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat fish, berasal dari Afrika.


4. MANFAAT

  • Sebagai bahan makanan
  • Ikan lele dari jenis C. batrachus juga dapat dimanfaatkan sebagai ikan pajangan atau ikan hias.
  • Ikan lele yang dipelihara di sawah dapat bermanfaat untuk memberantas hama padi berupa serangga air, karena merupakan salah satu makanan alami ikan lele.
  • Ikan lele juga dapat diramu dengan berbagai bahan obat lain untuk mengobati penyakit asma, menstruasi (datang bulan) tidak teratur, hidung berdarah, kencing darah dan lain-lain.

5. PERSYARATAN LOKASI

  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang dapat digunakan untuk budidaya lele dapat berupa: sawah, kecomberan, kolam pekarangan, kolamkebun, dan blumbang.
  2. Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang tingginya maksimal 700 m dpl.
  3. Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.
  4. Lokasi untuk pembuatan kolam harus berhubungan langsung atau dekat dengan sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya.
  5. Lokasi untuk pembuatan kolam hendaknya di tempat yang teduh, tetapi tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok.
  6. Ikan lele dapat hidup pada suhu 20°C, dengan suhu optimal antara 25-28°C. Sedangkan untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu antara 26- 30°C dan untuk pemijahan 24-28 ° C.
  7. Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya cukup, sekalipun kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin zat O2.
  8. Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia, limbah industri, merkuri, atau mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang dapat mematikan ikan.
  9. Perairan yang banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan dan bahan makanan alami. Perairan tersebut bukan perairan yang rawan banjir.
  10. Permukaan perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau daun-daunan hidup, seperti enceng gondok.
  11. Mempunyai pH 6,5–9; kesadahan (derajat butiran kasar ) maksimal 100 ppm dan optimal 50 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30–60 cm; kebutuhan O2 optimal pada range yang cukup lebar, dari 0,3 ppm untuk yang dewasa sampai jenuh untuk burayak; dan kandungan CO2 kurang dari 12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157,56 mg/liter.
  12. Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba :
  • Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.
  • Dekat dengan rumah pemeliharaannya.
  • Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 meter.
  • Sungai atau saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga keramba mudah dipasang.
  • Kedalaman air 30-60 cm.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele sebaiknya ukurannya tidak terlalu luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk dan ukuran kolam pemeliharaan bervariasi, tergantung selera pemilik dan lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen. Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan jernih kolam, bebas dari pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya harus dipertahankan. Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu masih diperbolehkan. Kekeruhan menunjukkan kadar bahan padat yang melayang dalam air (plankton). Alat untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi. Prakiraan kekeruhan air berdasarkan usia lele (minggu) sesuai angka secchi :
o Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50
o Usia 16-19 minggu, angka secchi = 30-40
o Usia 20-24 minggu, angka secchi = 30

2. Penyiapan Bibit

  • Menyiapkan Bibit
  • Pemilihan Induk
  • Ciri-ciri induk lele jantan:
  1. Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
  2. Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.
  3. Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak dibelakang anus, dan warna kemerahan.
  4. Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress).
  5. Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina.
  6. Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).
  7. Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.
  • Ciri-ciri induk lele betina
  1. Kepalanya lebih besar dibanding induk lelejantan.
  2. Warna kulit dada agak terang.
  3. Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.
  4. Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.
  5. Perutnya lebih gembung dan lunak.
  6. Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).

3. Syarat induk lele yang baik:

  • Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
  • Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil supaya terbiasa hidup di kolam.
  • Berat badannya berkisar antara 100-200 gram, tergantung kesuburan badan dengan ukuran panjang 20-5 cm.
  • Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan lincah.
  • Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina berumur satu tahun.
  • Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya bisa memijah lebih dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya mengandung cukup protein.

4. Ciri-ciri induk lele siap memijah

Adalah calon induk terlihat mulai berpasang- pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang betina. Induk tersebut segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam tersendiri untuk dipijahkan.

5. Perawatan induk lele:

  • Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi makanan yang berkadar protein tinggi seperti cincangan daging bekicot, larva lalat/belatung, rayap atau makanan buatan (pellet). Ikan lele membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatiftinggi, yaitu ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk lele, karena kandungan lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan.
  • Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari berat total ikan.
  • Setelah benih berumur seminggu, induk betina dipisahkan, sedangkan induk jantan dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru bisa dipindahkan apabila anak-anak lele sudah berumur 2 minggu.
  • Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang penyakit untuk segera diobati.
  • Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran tidak perlu deras, cukup 5-6 liter/menit.

6. Pemijahan Tradisional

1. Pemijahan di Kolam Pemijahan

a. Kolam induk :

  1. Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan dasar tanah.
  2. Luas bervariasi, minimal 50 m2.
  3. Kolam terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian dalam (kubangan) 30 % dari luas kolam. Kubangan ada di bagian tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm, berfungsi untuk bersembunyi induk, bila kolam disurutkan airnya.
  4. Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran dengan ukuran 30x30x25 cm3, dari tembok yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran dari pipa paralon diamneter 1 inchi untuk keluarnya banih ke kolam pendederan.
  5. Setiap sarang peneluran mempunyai satu lubang yang dibuat dari pipa paralon (PVC) ukuran ± 4 inchi untuk masuknya induk-induk lele.Jarak antar sarang peneluran ± 1 m.
  6. Kolam dikapur merata, lalu tebarkan pupuk kandang (kotoran ayam) sebanyak 500-750 gram/m2.
  7. Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan selama 4 hari. Kolam Rotifera (cacing bersel tunggal).
  8. Letak kolam rotifera di bagian atas dari kolam induk berfungi untuk menumbuhkan makanan alami ikan (rotifera).
  9. Kolam rotifera dihubungkan ke kolam induk dengan pipa paralon untuk mengalirkan rotifera.
  10. Kolam rotifera diberi pupuk organik untuk memenuhi persyaratan tumbuhnya rotifera.
  11. Luas kolam ± 10 m2.

b. Pemijahan:

  1. Siapkan induk lele betina sebanyak 2 x jumlah sarang yang tersedia dan induk jantan sebanyak jumlah sarang; atau satu pasang per sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas kolam (pilih salah satu).
  2. Masukkan induk yang terpilih ke kubangan, setelah kubangan diairi selama 4 hari.
  3. Beri/masukkan makanan yang berprotein tinggi setiap hari seperti cacing, ikan rucah, pellet dan semacamnya, dengan dosis (jumlah berat makanan) 2-3% dari berat total ikan yang ditebarkan .
  4. Biarkan sampai 10 hari.
  5. Setelah induk dalam kolam selama 10 hari, air dalam kolam dinaikkan sampai 10-15 cm di atas lubang sarang peneluran atau kedalaman air dalam sarang sekitar 20-25 cm. Biarkan sampai 10 hari. Pada saat ini induk tak perlu diberi makan, dan diharapkan selama 10 hari berikutnya induk telah memijah dan bertelur. Setelah 24 jam, telur telah menetas di sarang, terkumpullah benih lele. Induk lele yang baik bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya baik danakan bertelur terus sampai umur 5 tahun.
  6. Benih lele dikeluarkan dari sarnag ke kolam pendederan dengan cara: air kolam disurutkan sampai batas kubangan, lalu benih dialirkan melalui pipa pengeluaran.
  7. Benih-benih lele yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan diberi makanan secara intensif, ukuran benih 1-2 cm, dengan kepadatan 60 -100 ekor/m2.
  8. Dari seekor induk lele dapat menghasilkan ± 2000 ekor benih lele. Pemijahan induk lele biasanya terjadi pada sore hari atau malam hari.

c. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Berpasangan

Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan:

  1. Buat bak dari semen atau teraso dengan ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2 m dan tinggi0,6 m.
  2. Di dalam bak dilengkapi kotak dari kayu ukuran 25 x 40×30 cm tanpa dasar sebagai sarang pemijahan. Di bagian atas diberi lubang dan diberi tutup untuk melihat adanya telur dalam sarang. Bagian depan kotak/sarang pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak menjadi gelap.
  3. Sarang pemijahan dapat dibuat pula dari tumpukan batu bata atau ember plastik atau barang bekas lain yang memungkinkan.
  4. Sarang bak pembenihan diberi ijuk dan kerikil untuk menempatkan telur hasil pemijahan.
  5. Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci dengan air dan bilas dengan formalin 40 % atau KMnO4 (dapat dibeli di apotik); kemudian bilas lagi dengan air bersih dan keringkan.

Pemijahan:

  1. Tebarkan I (satu) pasang induk dalam satu bak setelah bak diisi air setinggi ± 25 cm. Sebaiknya airnya mengalir.
  2. Penebaran dilakukan pada jam 14.00–16.00.
  3. Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan yang intensif. Setelah ± 10 hari, diharapkan sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan dalam waktu 24
  4. Jam telur-telur telah menetas. Telur-telur yang baik adalah yang berwarna kuningcerah.
  5. Beri makanan anak-anak lele yang masih kecil (stadium larva) tersebut berupa kutu air atau anak nyamuk dan setelahagak besar dapat diberi cacing dan telur rebus.

d. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Masal

Penyiapan bak pemijahan secara masal:

  1. Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50 m2, ukuran 2×10 m2 atau 5×10 m2.
  2. Di luar bak, menempel dinding bak dibuat sarang pemijahan ukuran 30x30x30 cm3, yang dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih dari paralon (PVC) berdiameter 1 inchi. Setiap sarang dibuatkan satu lubang dari paralon berdiameter 4 inchi.
  3. Dasar sarang pemijahan diberi ijuk dan kerikil untuk tempat menempel telur hasil pemijahan.
  4. Sebelum digunakan, bak dikeringkan dan dibilas dengan larutan desinfektan atau formalin, lalu dibilas dengan air bersih; kemudian keringkan.

Pemijahan:

  1. ?Tebarkan induk lele yang terpilih (matang telur) dalam bak pembenihan sebanyak 2xjumlah sarang , induk jantan sama banyaknya dengan induk betina atau dapat pula ditebarkan 25-50 pasang untuk bak seluas 50 m2 (5×10 m2), setelah bak pembenihan diairi setinggi 1m.
  2. Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan air sampai ketinggian 50- 60cm, induk beri makan secara intensif.
  3. Sepuluh hari kemudian, air dalam bak dinaikkan sampai di atas lubang sarang sehingga air dalam sarang mencapaiketinggian 20-25 cm.
  4. Saat air ditinggikan diharapkan induk-induk berpasangan masuk sarang pemijahan, memijah dan bertelur. Biarkan sampai ± 10 hari.
  5. Sepuluh hari kemudian air disurutkan lagi, dan diperkirakan telur-telur dalam sarang pemijahan telah menetas dan menjadi benih lele.
  6. Benih lele dikeluarkan melalui saluran pengeluaran benih untuk didederkan di kolam pendederan.

e. Pemijahan Buatan

Cara ini disebut Induced Breeding atau hypophysasi yakni merangsang ikan lele untuk kawin dengan cara memberikan suntikan berupa cairan hormon ke dalam tubuh ikan. Hormon hipophysa berasal dari kelenjar hipophysa, yaitu hormon gonadotropin.

Fungsi hormon gonadotropin:

  • Gametogenesis: memacu kematangan telur dan sperma, disebut Follicel Stimulating Hormon. Setelah 12 jam penyuntikan, telur mengalami ovulasi (keluarnya telur dari jaringan ikat indung telur). Selama ovulasi, perut ikan betina akan membengkak sedikit demi sedikit karena ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat yang baik untuk melakukan pengurutan perut (stripping).
  • Mendorong nafsu sex (libido)

7. Perlakuan dan Perawatan Bibit

a. Kolam untuk pendederan:

  • Bentuk kolam pada minggu 1-2, lebar 50 cm, panjang 200 cm, dan tinggi 50 cm. Dinding kolam dibuat tegak lurus, halus, dan licin, sehingga apabila bergesekan dengan tubuh benih lele tidak akan melukai. Permukaan lantai agak miring menuju pembuangan air. Kemiringan dibuat beda 3 cm di antara kedua ujung lantai, di mana yang dekat tempat pemasukan air lebih tinggi. Pada lantai dipasang pralon dengan diameter 3-5 cm danpanjang 10 m.
  • Kira-kira 10 cm dari pengeluaran air dipasang saringan yang dijepit dengan 2 bingkai kayu tepat dengan permukaan dalam dinding kolam. Di antara 2 bingkai dipasang selembar kasa nyamuk dari bahan plastik berukuran mess 0,5-0,7 mm, kemudian dipaku.
  • Setiap kolam pendederan dipasang pipa pemasukan dan pipa air untuk mengeringkan kolam. Pipa pengeluaran dihubungkan dengan pipa plastik yang dapat berfungsi untuk mengatur ketinggian air kolam. Pipa plastik tersebut dikaitkan dengan suatu pengait sebagai gantungan.
  • Minggu ketiga, benih dipindahkan ke kolam pendederan yang lain. Pengambilannya tidak boleh menggunakan jaring, tetapi dengan mengatur ketinggian pipa plastik.
  • Kolam pendederan yang baru berukuran 100 x 200 x 50 cm, dengan bentuk dan konstruksi sama dengan yangsebelumnya.

b. Penjarangan:

Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang dilakukan karena ikan lele berkembang ke arah lebih besar, sehingga volume ratio antara lele dengan kolam tidak seimbang.
Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan :

  • Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.
  • Terjadi perebutan ransum makanan dan suatu saat dapat memicu mumculnya kanibalisme (ikan yang lebih kecil dimakan oleh ikanyang lebih besar).
  • Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya CO2 dan NH3, dan O2 kurang sekali sehingga pertumbuhan ikan lele terhambat.

Cara penjarangan pada benih ikan lele :

  • Minggu 1-2, kepadatan tebar 5000 ekor/m2
  • Minggu 3-4, kepadatan tebar 1125 ekor/m2
  • Minggu 5-6, kepadatan tebar 525 ekor/m2

c. Pemberian pakan:

  • Hari pertama sampai ketiga, benih lele mendapat makanan dari kantong kuning telur (yolk sac) yang dibawa sejak menetas.
  • Hari keempat sampai minggu kedua diberi makan zooplankton, yaitu Daphnia dan Artemia yang mempunyai protein 60%. Makanan tersebut diberikandengan dosis 70% x biomassa setiap hari yang dibagi dalam 4 kali pemberian. Makanan ditebar disekitar tempat pemasukan air. Kira-kira 2-3 hari sebelum pemberian pakan zooplankton berakhir, benih lele harus dikenalkan dengan makanan dalam bentuk tepung yang berkadar protein 50%. Sedikit dari tepung tersebut diberikan kepada benih 10-15 menit sebelum pemberian zooplankton.
  • Makanan yang berupa tepung dapat terbuat dari campuran kuning telur, tepung udang dan sedikit bubur nestum.
  • Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.
  • Minggu keempat dan kelima diberi pakan sebanyak 32% x biomassa setiap hari.
  • Minggu kelima diberi pakan sebanyak 21% x biomassa setiap hari.
  • Minggu keenam sudah bisa dicoba dengan pemberian pelet apung.

d. Pengepakan dan pengangkutan benih

1. Cara tertutup:

  • Kantong plastik yang kuat diisi air bersih dan benih dimasukkan sedikit demi sedikit. Udara dalam plastik dikeluarkan. O2 dari tabung dimasukkan ke dalam air sampai volume udara dalam plastik 1/3–1/4 bagian. Ujung plastik segera diikat rapat.
  • Plastik berisi benih lele dimasukkan dalam kardus atau peti supaya tidak mudah pecah.

2. Cara terbuka dilakukan bila jarak tidak terlalu jauh:

  • Benih lele dilaparkan terlebih dahulu agar selama pengangkutan, air tidak keruh oleh kotoran lele. (Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam).
  • Tempat lele diisi dengan air bersih, kemudian benih dimasukkan sedikit demi sedikit. Jumlahnya tergantung ukurannya. Benih ukuran 10 cm dapat diangkut dengan kepadatan maksimal 10.000/m3 atau 10 ekor/liter. Setiap 4 jam, seluruh air diganti di tempat yang teduh.

e. Pemeliharaan Pembesaran
a. Pemupukan

  1. Sebelum digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud untuk menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan alami bagi benih lele.
  2. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 500-700 gram/m 2 . Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m 2 , dan amonium nitrat 15 gram/m 2 . Selanjutnya dibiarkan selama 3 hari.
  3. Kolam diisi kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50 cm dan dibiarkan selama satu minggu sampai warna air kolam berubah menjadi coklat atau kehijauan yang menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik yang tumbuh sebagai makanan alami lele.
  4. Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar.

b. Pemberian Pakan

1. Makanan Alami Ikan Lele

  • Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva, cacing-cacing, dan serangga air.
  • Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol. Diatome), Anabaena spp (gol. Cyanophyta), Navicula spp (gol. Diatome), ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).
  • Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.
  • Ikan lele juga menyukai kotoran yang berasal darikakus.

2. Makanan Tambahan

  • Pemeliharaan di kecomberan dapat diberi makanan tambahan berupa sisa-sisa makanan keluarga, daun kubis, tulang ikan, tulang ayam yang dihancurkan, usus ayam, dan bangkai.
  • Campuran dedak dan ikan rucah (9:1) atau campuran bekatul, jagung, dan bekicot (2:1:1).

3. Makanan Buatan (Pellet)

  • Komposisi bahan (% berat): tepung ikan=27,00; bungkil kacang kedele=20,00; tepung terigu=10,50; bungkil kacang tanah=18,00;tepung kacang hijau=9,00; tepung darah=5,00; dedak=9,00; vitamin=1,00; mineral=0,500;
  • Proses pembuatan: Dengan cara menghaluskan bahan-bahan, dijadikan adonan seperti pasta, dicetak dan dikeringkan sampai kadar airnya kurang dari 10%. Penambahan lemak dapat diberikan dalam bentuk minyak yang dilumurkan pada pellet sebelum diberikan kepada lele. Lumuran minyak juga dapat memperlambat pellet tenggelam.
  • Cara pemberian pakan:
    • Pellet mulai dikenalkan pada ikan lele saat umur 6 minggu dan diberikan pada ikan lele 10-15 menit sebelum pemberian makananyang berbentuk tepung.
    • Pada minggu 7 dan seterusnya sudah dapat langsung diberi makanan yang berbentuk pellet.
    • Hindarkan pemberian pakan pada saat terik matahari, karena suhu tinggi dapat mengurangi nafsu makan lele.

c. Pemberian Vaksinasi
Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:

  1. Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan, lele yang berumur 2 minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan formalin dengan dosis 200 ppm selama 10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan kebal selama 6 bulan.
  2. Pencegahan penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan dengan menyutik dengan terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.
  3. Pencegahan penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan merendam lele dalam larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit.

d. Pemeliharaan Kolam/Tambak

  1. Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2 untuk memberantas hama dan bibit penyakit.
  2. Air dalam kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan cara mengganti semua air kotor tersebut dengan air bersih yang telah diendapkan 2 malam.
  3. Kolam yang telah terjangkiti penyakit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 200 gram/m 2 selama satu minggu. Tepung kapur (CaO) ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian dibiarkan kering lebih lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak.

8. HAMA DAN PENYAKIT

  • Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele.
  • Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.
  • Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.

Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla

Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron.

Gejala: warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air.

Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air.

Pengobatan melalui makanan antara lain:

(1)Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut.

(2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.

2. Penyakit Tuberculosis

Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum).

Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.

Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.

Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.

3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.

Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.

Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.

Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndamMalachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.

4. Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis

Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda,
disebut Ichthyophthirius multifilis.

Gejala:

  • ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;
  • terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;
  • ikan sering menggosok- gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.

Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama
12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

5. Penyakit Cacing Trematoda

Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.

Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.

Pengendalian:

(1) direndam Formalin 250 cc/m 3 air selama 15 menit;

(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;

(3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit;

(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;

(5)dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit.

6. Parasit Hirudinae

Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.

Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.

Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.

7. HamaKolam/Tambak
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segeradiganti.
4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.


8. PANEN

a. Penangkapan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:
1. Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu- waktu dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.
2. Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4 bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.
3. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.
4. Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
5. Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
6. Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
7. Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
8. Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.

b. Pembersihan

Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:
1. Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur sebanyak 20-200 gram/m 2 pada dinding kolam sampai rata.
2. Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.
3. Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang ada di kolam.

9. PASCAPANEN

1. Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya. Sebelum dibersihkan sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul kepalanya memakai muntu atau kayu.
2. Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena dapat menyebabkan daging terasa pahit.
3. Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai ragam masakan.

BEBEK

Profile Itik Mojosari

Ibarat pepatah “tak kenal maka tak sayang” itulah yang menjadi inspirasi kami untuk menulis artikel ini. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mengenalkan jenis itik lokal kepada masyarakat karena kebanyakan masyarakat kita masih belum mengetahui jenis-jenis itik lokal type petelur. Yang mereka tahu kalau itik coklat yang berdirinya seperti botol maka itu jenis itik petelur (ada yang menyebutnya bebek wek). Maka, pada kesempatan kali ini kami ingin memperkenalkan kepada pembaca sekalian salah satu jenis itik lokal petelur unggul yaitu itik mojosari.

Itik Mojosari merupakan salah satu itik lokal petelur unggul yang berasal dari kecamatan Mojosari kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Itik ini produksinya lebih tinggi dari pada itik Tegal. Itik Mojosari berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha ternak itik komersial, baik pada lingkungan tradisional maupun intensif. Bentuk badan itik Mojosari relatif lebih kecil dibandingkan dengan itik petelur lokal lainnya, tetapi telurnya cukup besar, enak rasanya dan digemari konsumen.

Ciri-ciri umum itik Mojosari, antara lain :

  1. Postur tubuh sama dengan itik tegal, hanya umumnya lebih kecil
  2. Warna bulu kemerahan dengan variasi coklat kehitaman, pada itik jantan ada 1-2 bulu ekor yang melengkung ke atas dengan warna paruh dan kakinya lebih hitam dibandingkan dengan itik betina
  3. Tidak memiliki sifat mengerami telurnya sendiri
  4. Berat badan dewasa rata-rata 1,7 kg
  5. Produksi telur rata-rata 200-220 butir/tahun
  6. Berat telur rata-rata 65-70 gram
  7. Warna kerabang telur biru kehijauan
  8. Masa produksi 11 bulan/tahun
  9. Mulai bertelur ketika umur 6 bulan dengan tingkat kestabilan produksi dimulai saat berumur 7 bulan
  10. Dengan perawatan yang baik produksi perhari dapat mencapai rata-rata 70-80% dari seluruh populasi
  11. Itik Mojosari yang bertelur pertama kali pada umur 25 minggu memiliki masa produksi lebih lama, bisa sampai 3 periode masa produktif

Corak warna

  1. Warna branjangan, yaitu itik yang mempunyai bulu coklat muda dihiasi dengan lurik-lurik hitam seperti burung branjangan
  2. Warna jarakan, yaitu itik yang mempunyai warna bulu lurik-lurik hitam, kalau ada kalung putih disebut jarakan belang
  3. Warna bosokan, yaitu itik yang mempunyai warna bulu seolah-olah hitam ketika masih meri (DOD), tetapi setelah besar sedikit demi sedikit berwarna coklat tua
  4. Warna gambiran, yaitu itik yang mempunyai warna bulu campur hitam dan putih
Jenis Itik Jumlah Telur
(butir-Tahun)
Bobot Telur
(gram/butir)
Itik Mojosari 200-265 70
Itik Tegal 150-250 65-70
Itik Alabio 130-250 65-70
Itik Bali 153-250 59-65

Suharno (2000, diolah)

Adaptasi itik mojosari di ibu kota Jakarta

Laporan Hasil Kegiatan Gelar Teknologi Penerapan Sistem Usahatani Itik Petelur dl DKI Jakarta tahun 2000 bahwa Itik Mojosari cukup beradaptasi di DKI Jakarta. Hasil pengkajian IP2TP Jakarta di Wilayah Kelurahan Rorotan Jakarta Utara menunjukkan bahwa itik ini mampu berproduksi sekitar 203 butir per tahun, lebih tinggi dari itik lokal yang berproduksi sekitar 188 butir per tahun. Hasil tersebut diperoleh dengan pemberian pakan sebanyak 150 gram/ekor/hari. Pakan yang diberikan memiliki kandungan protein 21% dan energi untuk bertelur sebesar 2.970 kilo kalori per kg. Kualitas telur yang dihasilkan cukup baik dilihat dari ukuran, warna kuning telur, tebal kerabang dan kekentalan putih telurnya. Berat telurnya rata-rata sekitar 64,5 gram per butir. Kecocokan itik Mojosari di Wilayah DKI Jakarta, juga dapat dilihat dari tingkat kematian yang hanya 0,75% dan kekebalan yang lebih tinggi terhadap penyakit dan parasit.

Potensi untuk dikembangkan

Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh itik mojosari, maka tak heran kalau itik ini menjadi objek uji coba untuk pengembangan itik lokal. Pada tahun 1996, Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi Bogor menemukan hasil persilangan dua itik lokal (mojosari dan alabio) yang keturunannya lebih baik dari tetuanya. Pada tahun 2002 diadakan kerjasama antara Balitnak Ciawi Bogor dengan Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) kambing domba dan itik Pelaihari, Kalimantan Selatan untuk mengembangkan hasil persilangan tersebut dan hasilnya sangat memuaskan.

Hasil persilangan itik tersebut diberi nama ITIK HIBRIDA RAJA (ada sebagian daerah menyebutnya dengan itik MA atau AM). Dinamakan itik raja karena itik ini mempunyai keunggulan pertumbuhan yang lebih cepat daripada itik jantan lainnya, dagingnya lebih tebal dan aromanya tidak terlalu amis seperti itik lainnya. Keunggulan lain adalah daya kekebalan tubuh terhadap penyakit dan lebih tahan stress baik akibat perubahan cuaca maupun suara bising. Untuk laju pertumbuhannya juga tak perlu diragukan lagi, yaitu bisa mencapai berat 1,2-1,4 kg dalam kurun waktu 6 minggu. Sehingga tak salah kalau itik raja ini menjadi promadona saat sekarang ini.


BETERNAK ENTOG/MENTOK

Mentok (peliharaan)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Muscovy-duck-2.jpg
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Anseriformes
Famili: Anatidae
Genus: Cairina
Spesies: C. moschata
Nama binomial
Cairina moschata
(Linnaeus, 1758)

Mentok peliharaan adalah sejenis burung atau unggas yang termasuk keluarga bebek. Istilah mentok berasal dari bahasa Jawa; di tempat lain ia mungkin disebut dengan salah satu atau beberapa nama berikut: entok, enthok atau entog (Sd., Bms.), basur (Bms.), itik manila, atau bebek manila (Ind.). Dalam bahasa Inggris disebut Muscovy Duck atau Barbary Duck.

Di Indonesia unggas ini adalah sepenuhnya hewan peliharaan, yang diternakkan terutama untuk dagingnya. Asal-usul mentok peliharaan adalah dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, di mana populasi burung ini hidup alami dan liar di rawa-rawa berhutan dan wilayah berpaya di sekitar danau dan sungai; termasuk di hilir lembah Sungai Rio Grande di Texas. Populasi lepasan yang meliar (feral) juga dijumpai di Florida bagian selatan.

//

Pemerian

Burung yang berukuran sedang sampai agak besar. Mentok jantan liar dapat mencapai 86 cm, dari ujung paruh hingga ke ujung ekor. Dan beratnya bisa sampai 3 kg. Mentok betina lebih kecil, sampai sekitar 64 cm dan 1,3 kg. Mentok peliharaan biasanya lebih gemuk, di mana jantan bisa mencapai 7 kg dan betina mencapai 5 kg.

Berwarna dominan hitam dan putih, mentok memiliki kulit atau tonjolan kulit berwarna merah dan hitam di sekitar mata dan wajah. Paruh gemuk pendek khas bebek, putih kemerahan; kaki gemuk pendek berselaput renang, abu-abu kehitaman. Ekor memipih datar agak lebar.

Kebiasaan

Meskipun pandai terbang, mentok peliharaan hampir tak pernah terbang jauh. Unggas ini sering terlihat berjalan bersama kelompoknya, perlahan-lahan dan tak pernah tergesa-gesa, dengan ekor bergoyang ke kanan dan ke kiri untuk mengimbangi tubuh (Jw., megal-megol) sehingga berkesan lucu.

Mentok jantan alias basur

Mentok liar di alamnya tidur di atas cabang-cabang pohon. Akan tetapi mentok peliharaan biasanya tidur di atas tanah. Di pedesaan di Jawa, mentok jarang dikandangkan. Dibiarkan bebas berkeliaran mencari makanannya sendiri, terutama di sekitar saluran air, sungai dan sawah. Mentok memakan aneka siput, cacing, serangga air, yuyu kecil dan pucuk-pucuk tumbuhan. Oleh pemiliknya, mentok kerap diberi makan dedak bercampur air dan sisa-sisa makanan.

Unggas ini tidak berisik, tidak seperti itik petelur. Mentok betina mengeluarkan desisan dan desahan sambil berjalan. Mentok jantan terkadang mengeluarkan desis keras sambil menggerakkan kepala maju mundur (Jw., nyosor), untuk memperingatkan atau mengusir pengganggu.

Mentok bertelur hingga kurang-lebih 10 butir, yang dierami oleh betinanya selama sekitar 5 minggu.

Kerabat Terdekat

Jenis mentok liar yang terdapat di Indonesia adalah mentok rimba (Cairina scutulata). Unggas ini menyebar luas secara alami mulai dari India, Asia Tenggara hingga Sumatra dan Jawa. Populasi mentok rimba kini terancam kepunahan, karena perburuan dan terutama karena perubahan habitat yang drastis. Di Jawa, hewan ini sekarang diduga sudah punah.

Masakan

Daging mentok disukai orang, terutama di pedesaan. Rasanya yang kuat dan tidak begitu berbau, tak seperti daging itik petelur, menjadikan daging unggas ini sebagai salah satu favorit di samping daging ayam.

Ada berbagai macam masakan daging mentok. Yang paling sederhana namun enak ialah mentok bakar, dengan bumbu sedikit garam dan bawang putih dilengkapi dengan sambal tomat hijau atau sambal jeruk nipis (cara Dompu).

Dari Kudus dikenal masakan sweeke enthok, dari Indramayu dikenal masakan pedesan entog. Dari Tambak, Banyumas terkenal masakan sate dan gule bebek; yang sebetulnya adalah sate dan gule mentok. Demikian pula, kebanyakan bebek goreng atau pecel bebek pada gerai pecel lele Lamongan di tepi jalan di banyak kota sebetulnya adalah mentok goreng. Sementara dari Tegal juga dikenal kupat blengong, ketupat dengan masakan daging blengong atau brati, yakni hasil persilangan mentok dengan itik petelur.

PUPUK SUNYE BIO AGRO

PUPUK ORGANIK SUNYE BIO AGRO


SUNYE BIO AGRO merupakan pupuk organik yang di produksi dalam negeri dibawah pengawasan SUNYE ORGANIC FERTILIZER CO., Ltd. Fujian – China. Pupuk organik SUNYE BIO AGRO merupakan inovasi bioteknologi negara – negara maju dengan sistem daur ulang limbah hasil laut, limbah ternak, limbah pertanian dan limbah industri menjadi pupuk siap pakai dengan harga terjangkau, kaya akan kandungan unsur hara, baik makro maupun mikro, asam amino, hormon pertumbuhan dan mikroorganisme.

SUNYE BIO AGRO adalah Formula biologis yang di proses dan dikembangkan dengan teknologi modern, melalui serangkaian percobaan serta analysa yang ketat guna menghasilkan aktivator yang berkualitas tinggi dan berfungsi untuk :

  • Mengatur penyerapan berbagai unsur nutrisi yang dibutuhkan untuk metabolisme tanaman.
  • Memaksimalkan pertumbuhan akar, daun, bunga dan buah serta meningkatkan kualitas dan hasil panen.
  • Memperbaiki struktur dan sifat kimia tanah serta merangsang pertumbuhan mikro organisme dan menjaga keseimbangan biologis tanah yang berguna untuk menyuburkan tanah.

KANDUNGAN SUNYE BIO AGRO

Kandungan Pupuk Organik Sunye Bio Agro terdiri dari :

1) NUTRISI ESSENSIAL

Yang terdiri dari :

UNSUR FUNGSI
  1. N   (Nitrogen)
  2. P    (Fosfor)
  3. K   (Kalium)
  4. Fe  (Ferum)
  5. Mn (Mangan)
  6. B   (Boron)
  7. Mg (Magnesium)
  8. Ca (Kalsium)
  9. S    (Sulfur)
  10. Cu (Cuprum)
  11. Zn  (Zinc)

Pertumbuhan vegetatif dan hijau daun.
Pertumbuhan akar dan memperkuat batang.
Meningkatkan kualitas buah dan rasa.
Penyusun klorofil (hijau daun).
Pengerambahan biji dan pemasakan buah.
Peningkatan kualitas buah.
Pembentukan biji dan kayu pada tanaman keras.
Pembentukan klorofil.
Penyusunan unsur sulfur.
Penyusunan dan mengatur transformasi enzym.
Pembentukan hormon tumbuh.

2) 17 MACAM ASAM AMINO

Merupakan unsur pengikat (katalisator) unsur lain, yang membuat daya pertumbuhan dan daya produksi menjadi maksimal. Adapun 17 asam amino tersebut adalah :

  • Cysteine
  • Threonina
  • Agrinina
  • Tirosina
  • Methlonina
  • Valina
  • Aspartic
  • Glutamat
  • Serina
  • Histidina
  • Glisina
  • Isoleucine
  • Fenilanina
  • Heusina
  • Leusina
  • Lisina
  • Alanina

3) MIKRO ORGANISME

Mikroorganisme yang terkandung adalah

  • Mikroba penambat
  • Mikroba pelepas
  • Mikroba perombak/ Pengurai bahan organik

Yang terdiri dari :

  1. Monococcus (Fluoresence)
  2. Monococcus (Non Fluoresence)
  3. Diplococcus
  4. Staphylococcus
  5. Stettococcus
  6. basil
  7. Strptobasil

4) ENZYM

Kandungan Enzym berfungsi untuk melepaskan ikatan sel dalam proses menghancurkan bahan organik serta mengubah protein menjadi asam amino supaya cepat diserap tanaman.

5) HORMON ALAMI/HORMON PERTUMBUHAN

Kandungan hormon terdiri dari :

  1. Giberalin

Berfungsi untuk memacu dan mempercepat pertumbuhan pucuk muda dan bunga, memacu pengangkutan makan dan mineral dal sel penyimpanan sehingga tanaman yang baru akan cepat tumbuh.

  1. Zeatin

Adalah zat pengatur tumbuh yang berfungsi untuk memacu pembelahan sel dan pembentukan organ dan dapat menunda penuaan berbagai jenis tanaman.

MACAM SUNYE BIO AGRO

Pupuk organik SUNYE BIO AGRO terdiri dari 3 macam jenis, yaitu :

1) PUPUK AKAR (SIRAM)

Digunakan dengan cara disiramkan di sekeliling tajuk tanaman. Dapat pula di oplos dengan pupuk anorganik (pupuk kimia).

2) PUPUK DAUN (SEMPROT)

Digunakan dengan cara disemprotkan keseluruh permukaan daun atas dan bawah agar penyerapan hara berjalan maksimal.

3) PUPUK TABUR / GRANUL

Digunakan dengan cara ditabur atau dibenamkan di sekitar tanaman dengan tujuan mengurangi penguapan karena pengaruh cuaca.

MANFAAT DAN KEUNGGULAN

  1. Mengembalikan unsur hara dan menyuburkan tanah.
  2. Meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah.
  3. Memperbaiki struktur, sirkulasi udara dan sifat kimia tanah.
  4. Meningkatkan produksi , memperbaiki kualitas dan hasil panen.
  5. Menyediakan hasil panen organik yang aman dikonsumsi manusia
  6. Menghemat pemakaian pupuk anorganik (pupuk kimia), pestisida dan fungisida.
  7. Meningkatkan daya tahan terhadap serangan hama penyakit.
  8. Alami dan ramah lingkungan.
  9. Menyediakan pupuk yang berkualitas tinggi dengan harga yang sangat terjangkau.

TABEL 1

PEMAKAIAN SUNYE BIO AGRO

PADA TANAMAN SEMUSIM

Jenis

Tanaman

Dosis

Sbl Tanam

Dosis

Stl Tanam

Interval

Kebutuhan

Per Ha

Keterangan
Bawang Merah

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

15 Kg

Bawang Putih

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

15 Kg

Jagung

4 cc/liter

2 cc/liter

15 hari

12 Kg

Kacang Tanah

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

8 Kg

Kedelai

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

8 Kg

Kentang

4 cc/liter

2 cc/liter

15 hari

10 Kg

Melon

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

12 Kg

Padi

4 cc/liter

2 cc/liter

15 hari

15 Kg

Pisang

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

8 Kg

Sayuran

4 cc/liter

2 cc/liter

8 hari

8 Kg

Semangka

4 cc/liter

2 cc/liter

8 hari

12 Kg

Singkong

4 cc/liter

2 cc/liter

15 hari

10 Kg

Talas

4 cc/liter

2 cc/liter

15 hari

10 Kg

Tebu

4 cc/liter

2 cc/liter

15 hari

15 Kg

Ubi Jalar

4 cc/liter

2 cc/liter

15 hari

10 Kg

TABEL 2

PEMAKAIAN SUNYE BIO AGRO

PADA TANAMAN JANGKA PENDEK

Jenis

Tanaman

Dosis

Sbl Tanam

Dosis

Stl Tanam

Interval Keterangan
Buncis

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Cabe

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Kacang Capri

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Kacang Panjang

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Labu Siam

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Mentimun

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Oyong

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Terong

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Tomat

4 cc/liter

2 cc/liter

10 hari

Pohon Bunga

4 cc/liter

1,5 cc/liter

15 hari

Anggrek

4 cc/liter

1,5 cc/liter

15 hari

Tanaman Hias

4 cc/liter

1,5 cc/liter

15 hari

TABEL 3

PEMAKAIAN SUNYE BIO AGRO

PADA TANAMAN KERAS

Jenis

Tanaman

Dosis

Pupuk Akar

Interval Dosis

Pupuk Daun

Interval KebutuhanPer 100 Pohon Keterangan

Alpukat

5 cc/liter

3 bulan 2 cc/liter 3 bulan 8 Kg

Apel

4 cc/liter

3 bulan 2 cc/liter 2 bulan 12 Kg
Blimbing

4 cc/liter

3 bulan

2 cc/liter

2 bulan

8 Kg

Cengkeh

4 cc/liter

3 bulan

2 cc/liter

3 bulan

12 Kg

Durian

5 cc/liter

3 bulan

2 cc/liter

3 bulan

10 Kg

Jambu

4 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 2 bulan 8 Kg

Jeruk

4 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 2 bulan 12 Kg

Kakao

5 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 2 bulan 10 Kg

Kelapa Hibrida

5 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 3 bulan 10 Kg

Kelapa Sawit

5 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 3 bulan 15 Kg

Kopi

5 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 2 bulan 10 Kg

Lada

5 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 2 bulan 10 Kg

Mangga

5 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 3 bulan 10 Kg

Rambutan

5 cc/liter 3 bulan 2 cc/liter 3 bulan 8 Kg

TABEL 4

PEMAKAIAN SUNYE BIO AGRO DICAMPUR

PUPUK KIMIA (ANORGANIK)

Jenis

Tanaman

Pupuk

Urea

Per Ha

Pupuk

TSP

Per Ha

Pupuk

KCL

Per Ha

Pupuk Sunye Akar

Per Ha

Pupuk Sunye Daun

Per Ha

Padi

125 Kg 40 Kg 50 Kg 10 Kg Ditabur 2x 3 Kg Semprot 3x

Jagung

150 Kg 100 Kg 100 Kg 12 Kg Ditabur 2x 3 Kg Semprot 3x

Kacang Tanah

50 Kg 100 Kg 150 Kg 7 Kg Ditabur 1x 1 Kg Semprot 1x

Kedelai

50 Kg 50 Kg 50 Kg 7 Kg Ditabur 1x 1 Kg Semprot 1x

Singkong

200 Kg 150 Kg 8 Kg Ditabur 1x 2 Kg Semprot 1x

Bawang Merah

200 Kg 150 Kg 200 Kg 9 Kg Ditabur 2x 3 Kg Semprot 3x

Kentang

100 Kg 150 Kg 100 Kg 10 Kg Ditabur 1x 2 Kg Semprot 1x

Cabe Merah

10 Gr/pohon 15 Gr/pohon 10 Gr/pohon 10 Kg Ditabur 2x 2 Kg Semprot 1x

Tomat

150 Kg 200 Kg 150 Kg 10 Kg Ditabur 2x 2 Kg Semprot 2x

Kol/Kubis

150 Kg 200 Kg 100 Kg 6 Kg Ditabur 1x 2 Kg Semprot 1x

Caisim

150 Kg 150 Kg 50 Kg 6 Kg Ditabur 1x 2 Kg Semprot 1x

Sawi Putih/Sanho

150 Kg 150 Kg 50 Kg 6 Kg Ditabur 1x 2 Kg Semprot 1x

Bayam

150 Kg 150 Kg 6 Kg Ditabur 1x 2 Kg Semprot 1x

Melon

150 Kg 150 Kg 100 Kg 10 Kg Ditabur 2x 2 Kg Semprot 2x

Mentimun

100 Kg 150 Kg 100 Kg 10 Kg Ditabur 2x 2 Kg Semprot 2x

Semangka

50 Kg 200 Kg 100 Kg 10 Kg Ditabur 2x 2 Kg Semprot 2x

Catatan :

Penggunaan Pupuk Sunye bisa dioplos dengan pupuk kimia (anorganik)

Kondisi Tanah

Menciptakan Kondisi ideal bagi Tanaman berdasarkan hasil uji tanah

Sampai saat ini, tanah masih menjadi faktor vital dalam usahatani karena hampir semua produk pertanian yang berupa tanaman membutuhkan kehadirannya sebagai tempat tumbuh, tempat persediaan nutrisi (unsur hara) maupun air yang sangat dibutuhkan tanaman.

Agar tanaman bisa tumbuh dengan baik, maka kondisi tanah haruslah ideal sesuai dengan syarat yang dibutuhkan tanaman. Tanah yang kaya akan unsur hara dan memiliki kandungan organik yang cukup, sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar tumbuh secara optimal. Namun demikian, tidak mudah bagi kita untuk menciptakan kondisi ideal suatu tanah bagi tanaman. Apalagi bila kita tidak mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi kondisi ideal tersebut.

Cara termudah untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan tanah sesuai tanamannya adalah dengan melakukan pengujian. Hasil pengujian tanah sangat berguna untuk pertanian karena akan memberikan informasi yang lengkap mengenai kondisi lahan kita saat ini. Dari hasil pengujian itulah kita bisa memperkirakan apa saja dan berapa banyak unsur hara yang harus ditambahkan.

Penggunaan tanah yang terus menerus tanpa istirahat disertai dengan aplikasi pupuk yang tidak tepat akan merusak struktur dan komposisi tanah. Akibatnya, tanah yang semula subur akan menurun kualitasnya, dengan implikasi penggunaan pupuk dengan dosis semula tidak lagi efektif untuk meningkatkan produktivitas. Artinya, dosis pupuk yang dulu tidak bisa lagi dijadikan tolok ukur untuk aplikasi saat ini.

Selain penggunaan lahan yang terus menerus, adanya perubahan iklim, pencemaran, penggunaan bahan kimia yang berlebihan juga sedikit banyak akan merubah variabel yang mempengaruhi kesuburan tanah seperti pH tanah, kandungan unsur hara makro maupun mikro, KTK (Kapasitas Tukar Kation), kelembaban, kelarutan dan lain-lain.

Berdasarkan hal itulah maka pengujian tanah penting dilakukan. Sayangnya, di negara kita pengujian tanah belum begitu luas penggunaan dan pemanfaatannya oleh sebagian besar petani kita, mungkin hanya sebagian kecil saja diantara mereka yang menyadari arti pentingnya. Lagipula alat yang digunakan untuk mengujinya pun sangat mahal. Sehingga proses pengujian tanah di Indonesia saat ini masih dilakukan oleh lembaga penelitian baik negeri maupun swasta.

Tipe Tanah
Tidak semua jenis tanah yang ada di alam cocok untuk tanaman pertanian. Setiap tanaman tentunya memiliki persyaratan tumbuh tersendiri sehingga wajar bila pada tanah tipe tertentu tanaman tersebut tidak bisa tumbuh dengan baik bahkan akan mati. Disinilah pentingnya kita mengetahui tanaman apa saja saja yang cocok bagi tanah kita.

Di alam ini terdapat berbagai jenis tanah hal ini tergantung dimana lokasi, maupun wilayah dimana kita tinggal. Berdasarkan tingkat keasamannya (pH) tanah dibedakan dengan ukuran yang menunjukkan tanah tersebut bersifat asam, netral atau basa (alkali). Sedangkan berdasarkan bentuk, tekstur dan komposisinya, tanah ada yang sifatnya berpasir sampai tanah lempung. Selain itu ada pula yang berupa batu gamping/kapur, tanah serpihan, humus, tanah vulkanik (berasal dari gunung berapi), maupun tanah berbatu. Dalam hubungannya dengan pertanian, maka secara umum tanah terbagi kedalam 3 bagian besar yaitu tanah berpasir, tanah lempung/liat dan tanah berdebu. Tanah berpasir merupakan tanah yang terbentuk dari partikel mineral ukuran besar, sehingga bila kita remas keras-keras dengan tangan, tanah akan mudah hancur. Tanah berpasir ini mengandung banyak oksigen dan sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman sayuran dataran rendah dan menengah. Akar tanaman pada tanah type ini akan lebih mudah melakukan penetrasi. Namun kekurangannya adalah baik air maupun nutrisi meresap lebih cepat. Lagipula, tanah berpasir cenderung bersifat alkalis yang kurang disukai tanaman sayuran umumnya.

Ada beragam jenis tanah yang secara umum dibedakan berdasarkan kandungan mineral dan jumlah bahan organiknya. Tanah pasir (paling kiri) tersusun atas partikel yang berukuran besar, serapan air dan udara lebih mudah namun tidak efisien dalam menahan kelembaban dan unsur hara dalam tanah. Tanah Lempung (paling kanan) tersusun atas partikel tanah yang berukuran kecil. Akibatnya daya drainase rendah dan tanah sulit diolah. Tanah debu (tengah) merupakan jenis tanah yang paling ideal karena tersusun dari material partikel yang seimbang baik liat, pasir maupun lempung. Tanah ini baik dalam resapan unsur hara, mudah diolah serta lebih subur.

Tanah liat atau berlempung tergolong tanah yang paling sulit diolah. Ini disebabkan tanah lempung mengandung partikel yang berukuran sangat kecil sehingga lebih padat karena ikatan partikel di dalamnya lebih erat. Bila kita genggam kuat-kuat tanah ini, maka kita akan merasa licin dan lengket. Karena memiliki sifat seperti itu, tanah akan terasa berat dan susah diolah terutama di musim penghujan, namun tanah ini akan menjadi sangat keras dan pecah di musim kemarau. Dibandingkan dengan tanah berpasir, akar tanaman pada tanah ini akan lebih sukar menembusnya. Bahkan karena sifatnya itu, air lebih sulit meresap.

Jenis tanah ketiga adalah tanah berdebu (loam soil) dimana tanah ini merupakan yang paling baik dan sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman sayuran. Karena tersusun dari pasir, tanah lempung, batu-batuan dengan kandungan bahan organik yang lebih banyak sehingga memudahkan akar untuk melakukan penetrasi. Disamping itu, jenis tanah ini juga mencegah air agar tidak meresap secara cepat dan drastis. Bila tanah anda bersifat lempung maupun berpasir maka salah satu cara untuk merubahnya menjadi loam soil adalah dengan menambahkan bahan organik seperti kompos, pupuk organik, atau peat moss.

Menguji Jenis Tanah
Secara langsung, hasil pengujian tanah memang tidak akan menunjukkan detail jenis tanah seperti apa lahan yang kita miliki tersebut. Namun setidaknya dari hasil pengujian secara statistik akan menunjukkan apakah tanah kita bersifat basa, asam, atau netral yang ditunjukkan dengan nilai pH. Hal ini penting karena bila tanah kita terlalu asam atau terlalu basa, akan mengganggu pertumbuhan tanaman bahkan bisa membuat tanaman keracunan unsur-unsur tertentu. Sehingga bila kita sudah mengetahui apakah tanah kita terlalu asam ataupun terlalu basa, kita bisa menambahkan material tertentu untuk menyesuaikan pH agar sesuai dengan tanaman yang diusahakan. Sebagai contoh, kapur bisa digunakan atau ditambahkan untuk menaikkan pHtanah yang terlalu asam. Sedangkan belerang/sulfur atau peat moss bisa digunakan untuk menurunkan pH tanah yang bersifat basa.

Pengujian tanah dapat dilakukan sendiri, dapat juga diujikan melalui pihak lain dalam hal ini lembaga penelitian seperti universitas dan lain-lain tergantung tujuan dan sejauh mana informasi yang ingin kita dapatkan. Bila kita hanya sekedar ingin mengetahui pH tanah, kita dapat melakukannya sendiri dengan pH meter. Namun bila informasi pH saja tidak cukup dan ingin menggali informasi yang lebih luas dari mulai pH sampai ketersediaan nutrisi tentu saja kita harus malalui test laboratorium.

pH meter soil tester merupakan alat pengujian yang paling murah, dan paling banyak digunakan. Bentuk alat ini seperti kerucut dimana bagian bawahnya semakin runcing untuk ditancapkan pada tanah. Pada bagian atasnya terdapat skala ukuran menunjukkan nilai pH dan kelembaban. (Lihat Box). Meskipun tidak seakurat dan selengkap hasil test laboratorium, namun alat ini mudah digunakan oleh siapa saja, dimana kita tinggal menancapkan alat tersebut pada tanah untuk kemudian dilihat pada skala pHnya yang terletak pada bagian atasnya. Nilai pH yang tercantum pada skala menunjukkan kondisi nyata dari lahan kita. Alangkah baiknya bila kita melakukan pengujian di beberapa tempat sehingga hasil pengujian tersebut lebih mewakili.

Apabila pengujian tanah yang dilakukan sendiri dirasa kurang memberikan informasi yang dibutuhkan, maka kita dapat mengujinya melalui test laboratoium. Hasil test laboratorium ini lebih akurat, lebih detail dan lebih lengkap dibandingkan pengujian yang dilakukan dengan alat test sederhana. Namun tentunya biayanya pun lebih mahal. Untuk dapat melakukan pengujian tanah kita bisa menghubungi lembaga penelitian yang berkompeten seperti litbang pertanian, maupun universitas setempat. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, maka pengambilan contoh tanah dapat dilakukan secara sederhana maupun detail. Pengambilan sampel sederhana dilakukan dengan mengambil tanah di beberapa tempat sedalam 15 cm pada tiga bagian yaitu bagian atas, tengah dan bawah. Tanah tersebut diambil kira-kira sebanyak 1 kg, dicampur dan dikeringkan. Sampel tanah tersebut dapat langsung dibawa untuk dilakukan pengujian. Biasanya kita akan menerima hasil analisis laboratorium dalam waktu beberapa minggu. Di negara yang sudah maju seperti di Amerika, hasil analisis laboratium tanah sampel akan ditunjukan antara lain berupa pH tanah , kandungan Phospor, kandungan kalium, nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation), persentase kejenuhan tanah, tingkat nutrisi tanah, rekomendasi pemupukan dan pengapuran. Karena informasi yang diperoleh lebih lengkap, maka biaya pengujian pun lebih mahal dibandingkan bila kita melakukan pengujian sendiri.

Implementasi Hasil Pengujian
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, hasil pengujian tanah akan diperoleh data minimal adalah kisaran pH, sedangkan info yang lengkap bisa berupa Kapastitas Tukar Kation, kandungan unsur hara, kelarutan, maupun rekomendasi hanya bisa kita dapatkan dari hasil pengujian laboratoriu,.

Nilai pH suatu tanah berada pada kisaran 1 sampai 14. Semakin kecil nilainya maka tanah tersebut semakin asam, sedangkan sebaliknya bila nilai tersebut makin besar, maka tanah tersebut semakin bersifat basa. Sebagai ilustrasi pada nilai pH = 1 berarti tanah bersifat sangat asam. Sebaliknya pH bernilai 14 menunjukkan bahwa tanah bersifat sangat basa. Nilai pH=7 menunjukkan bahwa tanah bersifat netral ( tidak bersifat asam maupun basa). Perbedaan nilai pH antara 6 dengan 7 sepertinya sedikit, namun karena skala pH didasarkan pada nilai logaritma, maka nilai pH 6 berarti menunjukkan bahwa tanah tersebut 10 kali lebih asam dibandingkan pH 7.

Setelah nilai pH sudah kita ketahui, maka kita dapat memperkirakan tanaman apa yang cocok dengan kondisi tanah kita. Memang sulit bila kita ingin menyiapkan unsur hara yang benar-benar dibutuhkan tanaman pertanian hanya didasarkan pada ukuran pH saja. Alternatif lain adalah memperkirakan kondisi lahan setempat secara umum yang menunjukkan tanaman mana yang paling cocok, paling optimal tumbuhnya. Hampir sebagian besar tanaman lebih menyukai kondisi lahan dengan tingkat keasaman yang sedang. Tanah yang terlalu asam maupun terlalu basa akan mencegah tanaman mengabsorbsi (menyerap) nutrisi dalam tanah meskipun unsur hara tersedia bahkan melimpah.

Jenis Tanaman Ideal sesuai pH Tanah
pH 4,5 – 5,5

Jenis Tanaman Ideal :

  • Azalea
  • Bent Grass
  • Kentang
  • Semangka
  • Gardenia
  • Dandelion
  • Cranberry

pH 5,5 – 6,5

Jenis Tanaman Ideal :

  • Kacang
  • Wortel
  • Bunga Krisan
  • Jagung
  • Terong
  • Bawang
  • Tembakau
  • Tomat
  • Lada
  • Waluh
  • Squash
  • Strawberry

pH 6,5 – 7,5

Jenis Tanaman Ideal :

  • Apel
  • Asparagus
  • Bits
  • Brokoli
  • Kubis
  • Selederi
  • Melon
  • Selada
  • Bawang
  • Kacang Panjang
  • Bawang Daun
  • Bayam
  • Spinach

Tanah yang memiliki tingkat keasaman yang tinggi tidak baik bagi pertumbuhan tanaman karena akan secara langsung “menahan” serta mencegah unsur untuk diserap tanaman. Cara yang paling mudah untuk menyesuaikan tingkat keasaman tanah agar bisa diterima oleh tanaman bersangkutan hanyalah melalui aplikasi /pemberian kapur. Kapur untuk tanah tersedia dalam berbagai bentuk. Namun yang paling sering digunakan adalah kapur dolomit. Penggunaan kapur dolomit ini karena dia memiliki kandungan kalsium yang tinggi, trace element dan tahan lama pengaruhnya. Umumnya, kapur diperlukan setiap tiga tahun sekali untuk tanah yang memiliki tingkat keasaman tinggi, dengan cara memberikan rata-rata 5 pound per 100 kaki persegi. Jumlah ini akan menurunkan pH sebanyak 1. Bahan lain yang juga bisa digunakan untuk menurunkan keasaman adalah debu/sisa pembakaran kayu. Abu kayu kaya akan potasium. Semakin keras kayunya, maka semakin bagus kandungan nutrisinya. Perlu diketahui pula bila kita memberikan kapur dalam jumlah yang tidak tepat apalagi berlebih maka akan menyebabkan menunrunkan unsur Mangan.

Tanah yang bersifat basa/alkali dapat dinetralkan dengan penambahan sulfur/belerang, peat moss atau bahan organik yang memiliki tingkat keasaman tinggi. Secara tehnis, pemberian belerang pada tanah basa akan mengoksidasi sulfur, dimana belerang akan berubah menjadi asam dan akhirnya akan menetralisir sifat basa dari tanah.
Meskipun penggunaan uji tanah belum begitu meluas, tidak ada salahnya bagi kita untuk menciptakan kondisi yang lebih ideal agar tanaman yang kita tanam bisa berproduksi secara optimal.

(Redaksi-dari berbagai sumber)

BERTANAM HIDROPONIK

Terbatasnya lahan produktif saat ini tidak lagi menjadi kendala dalam mengusahakan pertanian indoor maupun outdoor. Meskipun sistem hidroponik bukan teknologi baru lagi bagi kita, namun justru kini telah menjadi trend tatkala media tanah yang produktif semakin berkurang. Selain tidak memakan tempat yang luas, juga ditengarai sistem ini mudah perawatannya serta lebih menguntungkan.

Media tanam hidroponik bisa bermacam-macam. Arang merupakan salah satunya

Sayuran hidroponik dengan media air yang sudah diberi nutrisi

Bertanam dengan sistem hidroponik, dalam dunia pertanian bukan merupakan hal yang baru. Namun demikian hingga kini masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan jelas bagaimana cara melakukan dan apa keuntungannya. Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan secara ringkas dan praktis bertanam dengan cara hidroponik.
Dalam kajian bahasa, hidroponik berasal dari kata hydro yang berarti air dan ponos yang berarti kerja. Jadi, hidroponik memiliki pengertian secara bebas teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari bercocok tanam tanpa tanah. Dari pengertian ini terlihat bahwa munculnya teknik bertanam secara hidroponik diawali oleh semakin tingginya perhatian manusia akan pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman.
Dimanapun tumbuhnya sebuah tanaman akan tetap dapat tumbuh dengan baik apabila nutrisi (hara) yang dibutuhkan selalu tercukupi. Dalam konteks ini fungsi dari tanah adalah untuk penyangga tanaman dan air yang ada merupakan pelarut unsur hara (nutrisi), untuk kemudian bisa diserap tanamanan. Dari pola pikir inilah yang akhirnya melahirkan teknik bertanam dengan hidroponik, dimana yang ditekankan adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi (hara) sebagaimana yang telah disampaikan dimuka.

Bahan-bahan untuk Hidroponik
Pot yang ukuran besarnya disesuaikan dengan tanaman yang akan dijadikan maskot, bisa berupa tanaman sayur seperti terong dan sebagainya. Bisa juga tanaman tahunan seperti kedondong, jambu ataupun juga bunga-bungaan. Pot yang digunakan sebaiknya pot bertingkat, yang dilengkapi dengan wadah penampung air dibagian dasarnya.
Bahan pot dapat dari tanah liat dan juga plastik, keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Pot dari tanah liat misalnya memiliki keunggulan mampu menjaga stabilitas temperatur media, akan tetapi cepat berlumut dan mudah rusak. Sementara pot dari plastik lebih awet namun tidak bisa melewatkan air dari dinding potnya sehingga stabilitas media tidak stabil.
Kemudian sebagai media tanam diantaranya dapat digunakan pasir, batu apung putih, batu zeolit, pecahan batu bata, batu kali dan kawat kasa nilon. Untuk menjaga sterilitas bahan, sebaiknya semua bahan direbus dulu sebelum dijadikan media tanam. Sedangkan tanamannya, diambil tanaman yang telah tumbuh didalam polybag dan siap direplanting kedalam pot.

Cara Penanaman
Apabila semua bahan sudah siap, pertama-tama ambil kawat kasa nilon letakkan didasar pot. Kemudian masukkan pecahan batu bata selapis, diatasnya diberi batu apung dan batu zeolit hingga sepertiga bagian dari pot yang digunakan. Setelah itu, ambil tanaman yang siap dipindahkan dari polybag ke pot, caranya bersihkan akar tanaman yang selama ini sudah tumbuh di polybag tersebut dengan cara melarutkan media tanamnya (tanah) kedalam air.
Setelah akar-akarnya kelihatan bersih, kemudian kita amati kembali akar tersebut. Bila ditengarai ada akar yang rusak ataupun terlalu panjang (disesuaikan dengan besarnya tanaman maskot dan pot) sebaiknya dipotong. Demikian juga untuk daunnya, apabila terlalu rimbun perlu untuk dikurangi. Kemudian bibit ditanam dalam pot yang sudah terisi bahan sepertiga bagian dan lanjutkan penambahan media tanam hingga dua pertiga bagian pot.
Langkah selanjutnya isilah pot bertingkat tersebut dengan nutrisi yang dibutuhkan (sesuai paparan dibawah). Sedang untuk pertama kalinya, tanaman perlu pengerudungan dengan plastik transparan selama dua minggu, letakkan ditempat yang teduh.

Formulasi Kebutuhan Nutrisi
Pemenuhan kebutuhan nutrisi bisa anda peroleh dengan cara memberi berbagai macam pupuk khusus hidroponik dengan formulasi tertentu yang banyak tersedia ditoko-toko pertanian. Dalam fase awal pertumbuhan perlu perawatan secara rutin, misalnya dipagi hari tanaman perlu dikenakan sinar matahari. Kemudian juga perlu pemupukan secara rutin dalam setiap dua hingga lima hari sekali. Gunakan pupuk NPK Grand S 15 sebanyak satu sendok makan untuk kemudian larutkan kedalam sepuluh liter air. Masukkan larutan pupuk ini kedalam pot dasar sesuaikan dengan ketersediaan air dalam pot.
Sebagaimana dalam paparan dimuka, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bisa juga dilakukan dengan pemberian pupuk tambahan. Yang pemenuhannya bisa melalui daun, misalnya disemprot dengan Mamigro ataupun tambahan pupuk mikro Fitomic dengan aplikasi seminggu sekali.

Mengenai kebutuhan nutrisi dalam teknik hidroponik, Soedarsono salah seorang civitas akademika dari IPB Bogor juga pernah menentukan sebuah formula sebagai berikut : Kebutuhan unsur makro dapat dipenuhi dengan 6 gram urea, 9 gram SP36, 5 gram 2K, 5 gram garam inggris (MgSO4) dan 7,5 gram kapur (kalsium karbonat).
Sedangkan unsur mikronya dapat dipenuhi dengan 2,86 gram asam boraks, 0,22 gram asam sulfat, 2.03 gram mangan sulfat, 0.08 gram terusi, 0.02 asam molibdad dan 7.5 gram Fechelat. Cara pengaplikasiannya seperti dalam penggunaan NPK Grand S 15, yakni semua unsur baik makro maupun mikro dilarutkan kedalam 10 liter air.
Salah satu bentuk budidaya hidroponik secara besar-besaran dalam greenhouse

Keuntungan teknik hidroponik
Untuk keperluan hiasan, pot dan tanaman akan selalu bersih sehingga peletakan tanaman dalam ruangan akan lebih fleksibel. Sehingga untuk mendisign interior ruangan rumah akan bisa lebih leluasa dalam menempatkan pot-pot hidroponik. Bila tanaman yang digunakan adalah tanaman bunga, untuk bunga tertentu bisa diatur warna yang dikehendaki, tergantung tingkat keasaman dan basa larutan yang dipakai dalam pelarut nutrisinya.
Penggunaan tanaman buah-buahan seperti kedondong bangkok misalnya, menurut Santosa HB.,(2001), akan bisa menghasilkan penampakan tanaman yang dapat berbuah lebat sepanjang waktu. Kuncinya adalah dengan mengatur C/N ratio, yakni melalui pemangkasan pada cabang, batang dan daun yang tumbuh berlebihan. Disamping, pemangkasan juga akan merangsang pembungaan dan pembuahan.

(Ir. M. Harris, Technical Field Lampung).