Kondisi Tanah

Menciptakan Kondisi ideal bagi Tanaman berdasarkan hasil uji tanah

Sampai saat ini, tanah masih menjadi faktor vital dalam usahatani karena hampir semua produk pertanian yang berupa tanaman membutuhkan kehadirannya sebagai tempat tumbuh, tempat persediaan nutrisi (unsur hara) maupun air yang sangat dibutuhkan tanaman.

Agar tanaman bisa tumbuh dengan baik, maka kondisi tanah haruslah ideal sesuai dengan syarat yang dibutuhkan tanaman. Tanah yang kaya akan unsur hara dan memiliki kandungan organik yang cukup, sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar tumbuh secara optimal. Namun demikian, tidak mudah bagi kita untuk menciptakan kondisi ideal suatu tanah bagi tanaman. Apalagi bila kita tidak mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi kondisi ideal tersebut.

Cara termudah untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan tanah sesuai tanamannya adalah dengan melakukan pengujian. Hasil pengujian tanah sangat berguna untuk pertanian karena akan memberikan informasi yang lengkap mengenai kondisi lahan kita saat ini. Dari hasil pengujian itulah kita bisa memperkirakan apa saja dan berapa banyak unsur hara yang harus ditambahkan.

Penggunaan tanah yang terus menerus tanpa istirahat disertai dengan aplikasi pupuk yang tidak tepat akan merusak struktur dan komposisi tanah. Akibatnya, tanah yang semula subur akan menurun kualitasnya, dengan implikasi penggunaan pupuk dengan dosis semula tidak lagi efektif untuk meningkatkan produktivitas. Artinya, dosis pupuk yang dulu tidak bisa lagi dijadikan tolok ukur untuk aplikasi saat ini.

Selain penggunaan lahan yang terus menerus, adanya perubahan iklim, pencemaran, penggunaan bahan kimia yang berlebihan juga sedikit banyak akan merubah variabel yang mempengaruhi kesuburan tanah seperti pH tanah, kandungan unsur hara makro maupun mikro, KTK (Kapasitas Tukar Kation), kelembaban, kelarutan dan lain-lain.

Berdasarkan hal itulah maka pengujian tanah penting dilakukan. Sayangnya, di negara kita pengujian tanah belum begitu luas penggunaan dan pemanfaatannya oleh sebagian besar petani kita, mungkin hanya sebagian kecil saja diantara mereka yang menyadari arti pentingnya. Lagipula alat yang digunakan untuk mengujinya pun sangat mahal. Sehingga proses pengujian tanah di Indonesia saat ini masih dilakukan oleh lembaga penelitian baik negeri maupun swasta.

Tipe Tanah
Tidak semua jenis tanah yang ada di alam cocok untuk tanaman pertanian. Setiap tanaman tentunya memiliki persyaratan tumbuh tersendiri sehingga wajar bila pada tanah tipe tertentu tanaman tersebut tidak bisa tumbuh dengan baik bahkan akan mati. Disinilah pentingnya kita mengetahui tanaman apa saja saja yang cocok bagi tanah kita.

Di alam ini terdapat berbagai jenis tanah hal ini tergantung dimana lokasi, maupun wilayah dimana kita tinggal. Berdasarkan tingkat keasamannya (pH) tanah dibedakan dengan ukuran yang menunjukkan tanah tersebut bersifat asam, netral atau basa (alkali). Sedangkan berdasarkan bentuk, tekstur dan komposisinya, tanah ada yang sifatnya berpasir sampai tanah lempung. Selain itu ada pula yang berupa batu gamping/kapur, tanah serpihan, humus, tanah vulkanik (berasal dari gunung berapi), maupun tanah berbatu. Dalam hubungannya dengan pertanian, maka secara umum tanah terbagi kedalam 3 bagian besar yaitu tanah berpasir, tanah lempung/liat dan tanah berdebu. Tanah berpasir merupakan tanah yang terbentuk dari partikel mineral ukuran besar, sehingga bila kita remas keras-keras dengan tangan, tanah akan mudah hancur. Tanah berpasir ini mengandung banyak oksigen dan sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman sayuran dataran rendah dan menengah. Akar tanaman pada tanah type ini akan lebih mudah melakukan penetrasi. Namun kekurangannya adalah baik air maupun nutrisi meresap lebih cepat. Lagipula, tanah berpasir cenderung bersifat alkalis yang kurang disukai tanaman sayuran umumnya.

Ada beragam jenis tanah yang secara umum dibedakan berdasarkan kandungan mineral dan jumlah bahan organiknya. Tanah pasir (paling kiri) tersusun atas partikel yang berukuran besar, serapan air dan udara lebih mudah namun tidak efisien dalam menahan kelembaban dan unsur hara dalam tanah. Tanah Lempung (paling kanan) tersusun atas partikel tanah yang berukuran kecil. Akibatnya daya drainase rendah dan tanah sulit diolah. Tanah debu (tengah) merupakan jenis tanah yang paling ideal karena tersusun dari material partikel yang seimbang baik liat, pasir maupun lempung. Tanah ini baik dalam resapan unsur hara, mudah diolah serta lebih subur.

Tanah liat atau berlempung tergolong tanah yang paling sulit diolah. Ini disebabkan tanah lempung mengandung partikel yang berukuran sangat kecil sehingga lebih padat karena ikatan partikel di dalamnya lebih erat. Bila kita genggam kuat-kuat tanah ini, maka kita akan merasa licin dan lengket. Karena memiliki sifat seperti itu, tanah akan terasa berat dan susah diolah terutama di musim penghujan, namun tanah ini akan menjadi sangat keras dan pecah di musim kemarau. Dibandingkan dengan tanah berpasir, akar tanaman pada tanah ini akan lebih sukar menembusnya. Bahkan karena sifatnya itu, air lebih sulit meresap.

Jenis tanah ketiga adalah tanah berdebu (loam soil) dimana tanah ini merupakan yang paling baik dan sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman sayuran. Karena tersusun dari pasir, tanah lempung, batu-batuan dengan kandungan bahan organik yang lebih banyak sehingga memudahkan akar untuk melakukan penetrasi. Disamping itu, jenis tanah ini juga mencegah air agar tidak meresap secara cepat dan drastis. Bila tanah anda bersifat lempung maupun berpasir maka salah satu cara untuk merubahnya menjadi loam soil adalah dengan menambahkan bahan organik seperti kompos, pupuk organik, atau peat moss.

Menguji Jenis Tanah
Secara langsung, hasil pengujian tanah memang tidak akan menunjukkan detail jenis tanah seperti apa lahan yang kita miliki tersebut. Namun setidaknya dari hasil pengujian secara statistik akan menunjukkan apakah tanah kita bersifat basa, asam, atau netral yang ditunjukkan dengan nilai pH. Hal ini penting karena bila tanah kita terlalu asam atau terlalu basa, akan mengganggu pertumbuhan tanaman bahkan bisa membuat tanaman keracunan unsur-unsur tertentu. Sehingga bila kita sudah mengetahui apakah tanah kita terlalu asam ataupun terlalu basa, kita bisa menambahkan material tertentu untuk menyesuaikan pH agar sesuai dengan tanaman yang diusahakan. Sebagai contoh, kapur bisa digunakan atau ditambahkan untuk menaikkan pHtanah yang terlalu asam. Sedangkan belerang/sulfur atau peat moss bisa digunakan untuk menurunkan pH tanah yang bersifat basa.

Pengujian tanah dapat dilakukan sendiri, dapat juga diujikan melalui pihak lain dalam hal ini lembaga penelitian seperti universitas dan lain-lain tergantung tujuan dan sejauh mana informasi yang ingin kita dapatkan. Bila kita hanya sekedar ingin mengetahui pH tanah, kita dapat melakukannya sendiri dengan pH meter. Namun bila informasi pH saja tidak cukup dan ingin menggali informasi yang lebih luas dari mulai pH sampai ketersediaan nutrisi tentu saja kita harus malalui test laboratorium.

pH meter soil tester merupakan alat pengujian yang paling murah, dan paling banyak digunakan. Bentuk alat ini seperti kerucut dimana bagian bawahnya semakin runcing untuk ditancapkan pada tanah. Pada bagian atasnya terdapat skala ukuran menunjukkan nilai pH dan kelembaban. (Lihat Box). Meskipun tidak seakurat dan selengkap hasil test laboratorium, namun alat ini mudah digunakan oleh siapa saja, dimana kita tinggal menancapkan alat tersebut pada tanah untuk kemudian dilihat pada skala pHnya yang terletak pada bagian atasnya. Nilai pH yang tercantum pada skala menunjukkan kondisi nyata dari lahan kita. Alangkah baiknya bila kita melakukan pengujian di beberapa tempat sehingga hasil pengujian tersebut lebih mewakili.

Apabila pengujian tanah yang dilakukan sendiri dirasa kurang memberikan informasi yang dibutuhkan, maka kita dapat mengujinya melalui test laboratoium. Hasil test laboratorium ini lebih akurat, lebih detail dan lebih lengkap dibandingkan pengujian yang dilakukan dengan alat test sederhana. Namun tentunya biayanya pun lebih mahal. Untuk dapat melakukan pengujian tanah kita bisa menghubungi lembaga penelitian yang berkompeten seperti litbang pertanian, maupun universitas setempat. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, maka pengambilan contoh tanah dapat dilakukan secara sederhana maupun detail. Pengambilan sampel sederhana dilakukan dengan mengambil tanah di beberapa tempat sedalam 15 cm pada tiga bagian yaitu bagian atas, tengah dan bawah. Tanah tersebut diambil kira-kira sebanyak 1 kg, dicampur dan dikeringkan. Sampel tanah tersebut dapat langsung dibawa untuk dilakukan pengujian. Biasanya kita akan menerima hasil analisis laboratorium dalam waktu beberapa minggu. Di negara yang sudah maju seperti di Amerika, hasil analisis laboratium tanah sampel akan ditunjukan antara lain berupa pH tanah , kandungan Phospor, kandungan kalium, nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation), persentase kejenuhan tanah, tingkat nutrisi tanah, rekomendasi pemupukan dan pengapuran. Karena informasi yang diperoleh lebih lengkap, maka biaya pengujian pun lebih mahal dibandingkan bila kita melakukan pengujian sendiri.

Implementasi Hasil Pengujian
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, hasil pengujian tanah akan diperoleh data minimal adalah kisaran pH, sedangkan info yang lengkap bisa berupa Kapastitas Tukar Kation, kandungan unsur hara, kelarutan, maupun rekomendasi hanya bisa kita dapatkan dari hasil pengujian laboratoriu,.

Nilai pH suatu tanah berada pada kisaran 1 sampai 14. Semakin kecil nilainya maka tanah tersebut semakin asam, sedangkan sebaliknya bila nilai tersebut makin besar, maka tanah tersebut semakin bersifat basa. Sebagai ilustrasi pada nilai pH = 1 berarti tanah bersifat sangat asam. Sebaliknya pH bernilai 14 menunjukkan bahwa tanah bersifat sangat basa. Nilai pH=7 menunjukkan bahwa tanah bersifat netral ( tidak bersifat asam maupun basa). Perbedaan nilai pH antara 6 dengan 7 sepertinya sedikit, namun karena skala pH didasarkan pada nilai logaritma, maka nilai pH 6 berarti menunjukkan bahwa tanah tersebut 10 kali lebih asam dibandingkan pH 7.

Setelah nilai pH sudah kita ketahui, maka kita dapat memperkirakan tanaman apa yang cocok dengan kondisi tanah kita. Memang sulit bila kita ingin menyiapkan unsur hara yang benar-benar dibutuhkan tanaman pertanian hanya didasarkan pada ukuran pH saja. Alternatif lain adalah memperkirakan kondisi lahan setempat secara umum yang menunjukkan tanaman mana yang paling cocok, paling optimal tumbuhnya. Hampir sebagian besar tanaman lebih menyukai kondisi lahan dengan tingkat keasaman yang sedang. Tanah yang terlalu asam maupun terlalu basa akan mencegah tanaman mengabsorbsi (menyerap) nutrisi dalam tanah meskipun unsur hara tersedia bahkan melimpah.

Jenis Tanaman Ideal sesuai pH Tanah
pH 4,5 – 5,5

Jenis Tanaman Ideal :

  • Azalea
  • Bent Grass
  • Kentang
  • Semangka
  • Gardenia
  • Dandelion
  • Cranberry

pH 5,5 – 6,5

Jenis Tanaman Ideal :

  • Kacang
  • Wortel
  • Bunga Krisan
  • Jagung
  • Terong
  • Bawang
  • Tembakau
  • Tomat
  • Lada
  • Waluh
  • Squash
  • Strawberry

pH 6,5 – 7,5

Jenis Tanaman Ideal :

  • Apel
  • Asparagus
  • Bits
  • Brokoli
  • Kubis
  • Selederi
  • Melon
  • Selada
  • Bawang
  • Kacang Panjang
  • Bawang Daun
  • Bayam
  • Spinach

Tanah yang memiliki tingkat keasaman yang tinggi tidak baik bagi pertumbuhan tanaman karena akan secara langsung “menahan” serta mencegah unsur untuk diserap tanaman. Cara yang paling mudah untuk menyesuaikan tingkat keasaman tanah agar bisa diterima oleh tanaman bersangkutan hanyalah melalui aplikasi /pemberian kapur. Kapur untuk tanah tersedia dalam berbagai bentuk. Namun yang paling sering digunakan adalah kapur dolomit. Penggunaan kapur dolomit ini karena dia memiliki kandungan kalsium yang tinggi, trace element dan tahan lama pengaruhnya. Umumnya, kapur diperlukan setiap tiga tahun sekali untuk tanah yang memiliki tingkat keasaman tinggi, dengan cara memberikan rata-rata 5 pound per 100 kaki persegi. Jumlah ini akan menurunkan pH sebanyak 1. Bahan lain yang juga bisa digunakan untuk menurunkan keasaman adalah debu/sisa pembakaran kayu. Abu kayu kaya akan potasium. Semakin keras kayunya, maka semakin bagus kandungan nutrisinya. Perlu diketahui pula bila kita memberikan kapur dalam jumlah yang tidak tepat apalagi berlebih maka akan menyebabkan menunrunkan unsur Mangan.

Tanah yang bersifat basa/alkali dapat dinetralkan dengan penambahan sulfur/belerang, peat moss atau bahan organik yang memiliki tingkat keasaman tinggi. Secara tehnis, pemberian belerang pada tanah basa akan mengoksidasi sulfur, dimana belerang akan berubah menjadi asam dan akhirnya akan menetralisir sifat basa dari tanah.
Meskipun penggunaan uji tanah belum begitu meluas, tidak ada salahnya bagi kita untuk menciptakan kondisi yang lebih ideal agar tanaman yang kita tanam bisa berproduksi secara optimal.

(Redaksi-dari berbagai sumber)

4 responses to “Kondisi Tanah

  1. untuk tanah keasaman pH 4 – 5 jika untuk menanam jenis sorgum menggunakan kapur tanah / dolomit berapa banyak untuk lauasan tanah 0.25 Ha

    terima kasih

  2. Teriama kasih banyk, kami sangat terbantu atas tulisannya, saya selaku petani sawit yang berada di sumut yang rata2 tanah disini keasamannya tinggi jadi merasa lega, suwooonn banget mas!!!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s