TANAM KETIMUN & SAWI

BUDIDAYA TIMUN

ALA THAILAND

Thailand saat ini berpenduduk ± 62 juta jiwa orang. Penduduk Thailand biasa mengkonsumsi makanan yang sama dengan penduduk negara lain di daerah tropis. Mereka memasak berbagai macam masakan dan saling berbagi dengan yang lain. Salah satu masakan mereka yang terkenal adalah Man Preg ( Indonesia : sambal ) dengan bumbu sayur – sayuran. Sayur yang terpenting adalah timun. Sehingga penduduk Thailand menkonsumsi timun dalam jumlah besar, yang apabila diasumsikan kebutuhan timun dalam bentuk benih sekitar 60 – 80 ton/tahun. Berdasarkan varietasnya, tanaman timun dapat dibagi menjadi 3 (menurut ukurannya ), tetapi petani di Thailand juga membedakan berdasarkan lokasi tanam, seperti :

1. Varietas ukuran kecil Panjang ± 7 – 9 cm dan diameter 3.5 cm, berwarna hijau muda/terang dengan garis – garis putih. Petani di Thailand biasa menanam di lahan tanpa menggunakan lanjaran.

2. Varietas ukuran medium Panjang ± 13 – 15 cm dan diameter 4 cm. Warna buah hijau terang, petani di Thailand biasa menanam dengan menggunakan lanjaran.

3. Varietas ukuran panjang Panjang ± 18 – 22 cm, dan diameter 4 – 4.5 cm.

Petani di Thailand biasa menanam dengan menggunakan lanjaran. Varietas yang banyak ditanam adalah Hercules, Asian Star, Titan dan Ninja.

AREA TANAM TIMUN DI THAILAND

- Thailand bagian tengah

Petani Thailand di daerah ini menyukai varietas ukuran kecil, mereka menanam dengan mengggunakan bedengan dan terdapat irigasi diantara bedengan. Beberapa area di daerah ini menanam varietas ukuran panjang dan pengairan dengan menggunakan sprinkle, seperti di Nakornphatom, Supanburi, Angthong, Ratchaburi, Nakornnayok, Lopburi, dll.

- Thailand bagian Utara – Timur

Petani di daerah ini menyukai tananam timun varietas ukuran medium dan varietas ukuran panjang. Menanam timun dengan menggunakan lanjaran. Seperti di daerah Nakornratchasima, Korn Kaen, Burirum, Surin, Ulbolratchathani, Yasothorn, Nongkai, dll.

- Thailand bagian Utara.

Petani di daerah ini menanam timun varietas ukuran panjang dengan menggunakan lanjaran, seperti di daerah : Chiang Mai, Cjhinag Rai, Tak, Sukothai, dll.

- Thailand bagian Selatan

Di daerah ini memiliki iklim seperti di Indonesia dengan 2 musim. Musim hujan dan musim kemarau. Petani di daerah ini menanam timun varietas ukuran panjang dan ditanam dengan menggunakan lanjaran.

CARA MENANAM TIMUN ALA THAILAND

1. Menyiapkan lahan

Pertama kali tanah diolah dan dikeringkan selama 7 hari, kemudian dioalh kembali dengan diberi pupuk dengan formula 15 – 15 – 15 sekitar 300 Kg/Ha ( 5 sacks) kemudian ditutup dengan mulsa plastik.

2. Penanaman benih

Setelah memilih benih timun dengan menggunakan varietas yang bagus seperti Hercules, Asian Star, Ninja, Titan, kemudian membuat lubang pada mulsa plastik dengan jarak antar lubang 35 – 40 cm, dan ditanam dengan sistem dua baris tiap bedeng ( double row ).

3. Pengairan dan perawatan

Pengairan dilakukan / diberikan diantara bedengan dan sebelum transplanting dengan pemberian air di setiap lubang tanam. Setelah itu benih ditanam 1 – 2 benih/ lubang.2 – 3 hari kemudian, semua benih telah tumbuh dan diberi air setiap pagi. Setelah berumur lebih dari 10 hari, diberikan pengairan diantara bedengan dan dilakukan setiap 2 hari sekali. Pada umur 13 – 15 hari setelah tanam, diberi pupuk dengan formula 15 – 15 – 15 sebanyak 150 Kg/Ha, dengan cara dikocorkan dan melakukan pemangkasan pucuk lateral pertama sampai kelima. Kemudian diberi lanjaran tiap lubang. Setelah tanaman berumur sekitar 20 hari setelah tanam, tanaman timun akan tumbuh secara bertahap yaitu sekitar 15 cm/malam (panjang dari pucuk utama).

4. Penyemprotan pesti-sida dan pupuk daun

- Pada umur 7 – 10 hari disemprot dengan Kocide 10 gr + Mamigro 12 – 9 – 6 30cc + Fitomic 20 cc dilarutkan dalam 16 liter air.

- Pada umur 15 hari disemprot dengan Kocide 10 gr + Starmyl 20 gr + Mamigro 12 – 9 – 6 30 cc+ Fitomic 30 cc dilarutkan dalam 16 liter air.

- Pada umur 20 – 22 hari disemprot dengan Starmyl 30 gr + Winder 20 gr + Mamigro 21 – 21 – 21 30 cc + Fitomic 40 ccdilarutkan dalam 16 liter air.

- Pada umur 25 – 30 hari disemprot dengan Starmyl 35 gr + Winder 30 gr + Mamigro 21– 21 – 21 30 cc + Fitomic 40 cc dilarutkan dalam 16 liter air.

5. Panen dan pengemasan

Pada umur 30 – 35 hst, timun dapat dipanen dengan menggunakan pisau. Potong tangkai bagian atas buah mentimun ( agar tanaman berumur panjang / dapat panen sampai beberapa kali). Buah timun dikemas dalam plasik transparant dengan berat 10 kg/pack.

Panen sebaiknya dilakukan setiap hari agar mendapatkan bentuk dan ukuran buah yang bagus dan batang tanaman dapat tumbuh terus. Panen dapat dilakukan 25 – 30 kali / tanaman.


BUDIDAYA TIMUN

ALA KARAWANG


Kalau kita menyusuri jalur Pantura (Pantai Utara) mulai dari Kabupaten Indramayu, Subang, Karawang sampai Bekasi, maka akan kita lihat bahwa daerah ini merupakan sentra produksi timun terbesar di Jawa Barat bahkan di Indonesia.

Ada beberapa hal menarik dalam budidaya timun di jalur Pantura ini khususnya di Karawang dan Bekasi, terutama mengenai teknik budidaya dan sistem pemodalannya. Seperti halnya komoditas pertanian yang lain budidaya timun mempunyai peluang yang cukup menjanjikan apabila ditangani secara intensif dan profesional serta pada waktu yang tepat. Namun fluktuasi harga yang cukup tajam serta pekanya komoditas ini terhadap hama dan penyakit menyebabkan tingginya resiko kegagalan dalam pembudidayaannya.

Sumber Permodalan

Petani/Pengebun timun yang ada di daerah Karawang-Bekasi hampir 75% merupakan petani perantau yang datang dari daerah Indramayu dan Subang.

Timun yang sedang tumbuh diantara dua pematang yang penuh air

Pengebun-pengebun ini sebagian ada yang menggunakan modal pribadi tetapi kebanyakan mereka secara berkelompok meminjam modal dari tengkulak/bandar.

Bahkan ada juga yang mengajukan pinjaman ke bank. modal dari tengkulak/bandar ini akan dikembalikan oleh petani setelah panen ke – 10 sampai 20 kali tergantung tinggi rendahnya harga timun saat itu, dan pemodal mendapatkan komisi sebesar Rp. 50,00 – Rp. 100,00 per kg. timun. Menurut para pengebun timun yang sudah berpengalaman saat ini untuk menanam timun 1 hektar diperlukan modal sebesar Rp. 6.500.000,00 s/d Rp. 7.500.000,00.

Teknik Budidaya

Dilihat dari segi teknik budidaya, sebenarnya budidaya timun di daerah Pantura ini masih bersifat tradisional. Namun kelebihan dari petani/pengebun timun di daerah Karawang ini adalah dari segi intensitas perawatan dan pemupukan, sehingga dari luasan 1 Ha. mereka bisa menghasilkan 30 – 45 ton timun lokal dan 40 – 50 ton timun hibrida. Tingginya produksi timun di daerah Pantura ini selain disebabkan oleh intensitas perawatan khususnya penggunaan pestisida dan pemupukan yang cukup, juga karena pemanfaatan lahan yang sangat efektif, sehingga dalam 1 Ha. populasi tanaman + 40.000 – 50.000 tanaman. Hal ini bisa terjadi karena ukuran bedengan hanya 50 – 60 cm lebarnya, dengan jarak tanam 25 – 30 cm untuk timun lokal dan 30 – 40 cm untuk timun hibrida. Panjang bedengan 10 – 20 m atau sesuai dengan ukuran petak sawah atau kebun. Jarak antar bedengan 50 -60 cm.

Pencarian lokasi tanaman biasanya mengikuti musim tanam padi. Apabila penanaman timun dilakukan di tanah sawah dengan sistem irigasi teknis atau dekat dengan sumber air, maka harga sewa tanah tersebutberkisar antara Rp. 500.000,00 – Rp. 700.000, sedangkan apabila merupakan tanah kering/tegal yang sulit/jauh sumber irigasinya, harga sewanya lebih murah + Rp. 300.000,00 – Rp. 500.000,00/Ha.

Pengolahan tanah untuk budidaya timun di Karawang ini dilakukan dengan sistem borongan dengan cara pembuatan bedengan secara langsung. Biaya pengolahan tanah secara borongan ini adalah Rp. 1.400.000,00. per hektar Pengolahan tanah atau pembuatan bedengan ini akan selesai dalam 5 – 7 hari.

Untuk tujuan budidaya timun ini para petani timun biasanya sudah siap dengan benih yang dibawa dari daerahnya (Indramayu dan Subang). Benih-benih ini dulunya berasal dari kios-kios pertanian yang sudah diturunkan/dibenihkan lagi. Tetapi sebagian dari mereka ada yang membeli dari teman/tetangga. Untuk benih-benih timun lokal ini mereka bisa menjual seharga Rp. 30.000 – 40.000/liter dan membeli seharga Rp. 50.000 – 60.000/liter.

Penanaman timun di daerah Karawang-Bekasi ini dilakukan secara langsung (direct planting) dengan tugal. Untuk luasan 1 Ha. diperlukan + 2.000 gram benih timun. Penanaman timun bisa dilakukan dalam satu hari dengan tenaga kerja sebanyak 10 orang. Kebutuhan pupuk dan pestisida sangat diperhatikan dalam budidaya timun. Para petani yang sudah berpengalaman sadar dan tahu bahwa timun sangat peka terhadap pupuk dan serangan hama dan penyakit, sehingga mereka tidak mau mengambil resiko dengan mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida pada tanaman timunnya. Untuk mendapatkan hasil yang optimal petani timun biasanya menggunakan beberapa jenis pupuk antara lain : Urea : 1000 Kg/Ha, NPK : 300 Kg/Ha, SP-36 : 200 Kg/Ha, ZA : 200 Kg/Ha, KNO3 : 50 Kg/Ha, KCl : 100 Kg/Ha, Pupuk daun : 2,5 lt/Ha, ZPT : 2,5 ml/Ha, Fungisida : 4 Kg/Ha dan insektisida : 3 lt/Ha. Pemakaian pupuk daun jarang sekali dijumpai pada petani timun di daerah Pantura. Tetapi untuk pemakaian hormon dan ZPT cukup intensif terutama memasuki fase generatif. Demikian halnya dengan insektisida pemakaiannya sangat intensif sama dengan fungisida yang sangat membantu dalam mengendalikan penyakit kresek (Downy mildew).

Perawatan tanaman dimulai ketika tanaman berumur 5 – 10 hari. Pada umur 5 HST biasanya petani melakukan penyulaman pada lubang-lubang tanam yang kosong (tidak tumbuh) dan penjarangan pada lubang tanam yang berisi 3 tanaman/lebih. Setelah kegiatan penyulaman dilanjutkan dengan penyiangan terhadap rumput dan penutupan rongga tanah disekitar lubang tanam untuk memperkokoh tegaknya batang timun. Kegiatan selanjutnya adalah pemopokan. Pemopokan ditujukan untuk menutup rerumputan yang tumbuh di atas bedengan serta memberi efek dingin pada media tumbuh sehingga akar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Semua aktivitas pemeliharaan dan panen dilakukan melewati pematang yang berair

Setelah pemopokan selesai dilanjutkan dengan pemasangan lanjaran/teturus. Kebutuhan lanjaran/teturus adalah 45.000 – 50.000 batang/hektar. Harga teturus Rp. 25,00 – Rp. 30,00/batang. Pada umur 12 HST dilakukan pemupukan susulan dengan cara dikocor. Pupuk susulan yang dikocorkan ini terdiri dari Urea : ZA : SP-36 : DAP : KNO3 dengan perbandingan 1 : 1 : 1 : 1 : 1/4 atau 100 gram Urea + 100 gram ZA + 100 gram DAP + 25 gram KNO3 dilarutkan dalam 10 liter air. Pupuk susulan ini dilakukan sebanyak 5 – 6 kali, yaitu umur 12 HST, 15 HST, 18 HST, 19 HST, 22 HST dan 25 HST. Perawatan tanaman lainnya adalah pengikatan lanjaran dan cabang timun. Penyemprotan insektisida dan fungisida mulai umur 10 HST dengan interval 3 hari.

Penyemprotan pupuk daun, insektisida, fungisida serta ZPT biasanya dijadikan satu agar pemakaian tenaga kerja lebih efisien dan pelaksanaannya juga disesuaikan dengan keadaan dan umur tanaman serta serangan hama dan penyakit. Pemupukan susulan selanjutnya diberikan secara kering dengan ditugalkan diantara 4 lubang tanam atau dengan hanya ditabur ditengah bedengan. Pupuk susulan kering ini terdiri dari Urea : SP-36 : KCl dan NPK dengan perbandingan 2 : 1/2 : 1/2 : 1 diberikan pada umur 26 HST.

Panen dan Pemasaran Panen timun biasanya bisa dimulai pada umur 33 – 35 HST. tergantung tingkat kesuburan tanah dan varietas yang ditanam. Pemanenan buah timun dilakukan tiap hari agar bentuk dan ukuran buah masuk dalam permintaan pasar induk Jakarta. Ukuran standar buah timun di daerah Karawang adalah panajang buah 12 – 15 cm dengan diameter buah 2,5 – 3,5 cm. Pemasaran buah timun di daerah Karawang bisa dikatakan sangat mudah dan terjamin, sebab petani timun tidak perlu menjual/mengirim hasil panennya ke pasar induk.

Mereka hanya memetik buah kemudian menimbangnya, setelah itu para tengkulak/bandar datang menawar timun mereka. Tetapi untuk petani yang meminjam modal dari para bandar ini mereka harus rela hasil panen mereka dibawa bandar ke pasar tanpa tahu harga timun pada hari itu. Mereka baru tahu harga timun besok atau bahkan beberapa hari setelah timun mereka dijual oleh Bandar Lapak (pemilik kios) di Pasar Induk Jakarta, seperti Pasar Induk Cibitung, Kramatjati, Kebayoran dan lain-lain.

Permasalahan yang dihadapi oleh para petani timun di daerah Pantura khususnya Karawang adalah tidak adanya standar yang pasti besarnya komisi yang diambil oleh para pemodal. Sebab dalam prakteknya, komisi yang seharusnya berkisar anatara Rp. 50,00 – Rp. 100,00/Kg, kenyataannya bisa berubah menjadi Rp. 150,00 – Rp. 250,00/Kg.

Dengan keadaan ini tentunya keuntungan petani menjadi sangat kecil, sehingga sulit bagi mereka untuk meningkatkan pendapatan per satuan luas. Sedangkan untuk berusaha dengan modal pribadi mereka juga tidak sanggup. Hal ini tentunya merupakan dilema yang sulit untuk dipecahkan.

Melihat kenyataan itu tentunya diperlukan perhatian dari beberapa pihak terutama Pemerintah melalui beberapa program seperti Dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan Kredit Usaha Tani (KUT) yang diharapkan bisa membantu petani timun ini agar tidak terus-menerus terjerat dan tergantung kepada modal para tengkulak atau bandar yang tidak ada standar yang pasti besarnya komisi, belum ditambah bungannya yang cukup besar. Keuntungan optimal akan dengan mudah dicapai apabila petani timun memakai modal pribadikarena mereka bisa menjual dengan harga yang lebih mahal tanpa dipotong komisi dari para bandar yang membeli hasil panennya.


BUDIDAYA TANAMAN SAWI

A. LATAR BELAKANG.

Jagad Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman sayur-sayuran yang banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia. Sehingga ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk bisnis sayuran.
Di antara tanaman sayur-sayuran yang mudah dibudidayakan adalah caisim. Karena caisim ini sangat mudah dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya. Selain itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik..
Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek sosialnya sangat mendukung, sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di Indonesia.
Sebutan sawi orang asing adalah mustard. Perdagangan internasional dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta mustard. Orang Jawa, Madura menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda menyebut sasawi.

B. MANFAAT.

Manfaat sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar pencernaan.
Sedangkan kandungan yang terdapat pada sawi adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C.

JENIS SAWI

A. KLASIFIKASI BOTANI.

Divisi : Spermatophyta.
Subdivisi : Angiospermae.
Kelas : Dicotyledonae.
Ordo : Rhoeadales (Brassicales).
Famili : Cruciferae (Brassicaceae).
Genus : Brassica.
Spesies : Brassica Juncea.

B. JENIS-JENIS SAWI.

Secara umum tanaman sawi biasanya mempunyai daun panjang, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu : sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, dan sawi huma. Sekarang ini masyarakat lebih mengenal caisim alias sawi bakso. Selain itu juga ada pula jenis sawi keriting dan sawi sawi monumen.
Caisim alias sawi bakso ada juga yang menyebutnya sawi cina., merupakan jenis sawi yang paling banyak dijajakan di pasar-pasae dewasa ini. Tangkai daunnya panjang, langsing, berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang, tipis dan berwarna hijau. Rasanya yang renyah, segar, dengan sedikit sekali rasa pahit. Selain enak ditumis atau dioseng, juga untuk pedangan mie bakso, mie ayam, atau restoran cina.

SYARAT TUMBUH

Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.
Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan.
Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.

BUDIDAYA TANAMAN SAWI

Cara bertanam sawi sesungguhnya tak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada umumnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses pengolahan lahan, penyiapan benih, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan tanaman.
Sawi dapat ditanam secara monokultur maupun tunmpang sari. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan antara lain : bawang dau, wortel, bayam, kangkung darat. Sedangkan menanam benih sawi ada yang secara langsung tetapi ada juga melalui pembibitan terlebih dahulu.
Berikut ini akan dibahas mengenai teknik budidaya sawi secara konvensional di lahan.

A. BENIH.

Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram.
Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil.
Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan mesilnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.

B. PENGOLAHAN TANAH.

Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan yang akan kita gunakan.
Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.
Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan.
Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 – 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

C. PEMBIBITAN.

Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman. Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 – 120 cm dan panjangnya 1 – 3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan 20 – 30 cm.
Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl.
Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 – 5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.

D. PENANAMAN.

Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm.
Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4 – 8 x 6 – 10 cm.

E. PEMELIHARAAN.

Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu panaspenyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.
Tahap selanjutnya yaitu penjarangan, penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat.
Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.
Penyiangan biasanya dilakukan 2 – 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan.
Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok the sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan.

PENANAMAN VERTIKULTUR

Langkah – angkah penanaman secara vertikultur adalah sebagai berikut :

1. Benih disemaikan pada kotak persemaian denagn media pasir. Bibit dirawat hingga siap ditanaman pada umur 14 hari sejak benih disemaikan.
2. Sediakan media tanam berupa tanah top soil, pupuk kandang, pasir dan kompos dengan perbandingan 2:1:1:1 yang dicampur secara merata.
3. Masukkan campuran media tanam tersebut ke dalam polibag yang berukuran 20 x 30 cm.
4. Pindahkan bibit tanaman yang sudah siap tanam ke dalam polibag yang tersedia. Tanaman yang dipindahkan biasanya telah berdaun 3 – 5 helai.
5. Polibag yang sudah ditanami disusun pada rak-rak yang tersedia pada Lath House.

PENANAMAN HIDROPONIK.

Langkah-langkah penanaman secara hidroponik adalah sebagai berikut :

1. Siapkan wadah persemaian . Masukkan media berupa pasir halus yang disterilkan setebal 3 – 4 cm. Taburkan benih sawi di atasnya selanjutnya tutupi kembali dengan lapisan pasir setebal 0,5 cm.
2. Setelah bibit tumbuh dan berdaun 3 – 5 helai (umur 3 – 4 minggu0, bibit dicabut dengan hati-hati, selanjutnya bagian akarnya dicuci dengan air hingga bersih, akar yang terlalu panjang dapat digunting.
3. Bak penanaman diisi bagian bawahnya dengan kerikil steril setebal 7 – 10 cm, selanjutnya di sebelah atas ditambahkan lapisan pasir kasar yang juga sudah steril setebal 20 cm.
4. Buat lubang penanaman dengan jarak sekitar 25 x 25 cm, masukkan bibit ke lubang tersebut, tutupi bagian akar bibit dengan media hingga melewati leher akar, usahakan posisi bibit tegak lurus dengan media.
5. Berikan larutan hidroponik lewat penyiraman, dapat pula pemberian dilakukan dengan sistem drip irigation atau sistem lainnya, tanaman baru selanjutnya dipelihara hingga tumbuh besar.

HAMA DAN PENYAKIT

A. HAMA.

1. Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.).
2. Ulat tritip (Plutella maculipennis).
3. Siput (Agriolimas sp.).
4. Ulat Thepa javanica.
5. Cacing bulu (cut worm).

B. PENYAKIT.

1. Penyakit akar pekuk.
2. Bercak daun alternaria.
3. Busuk basah (soft root).
4. Penyakit embun tepung (downy mildew).
5. Penyakit rebah semai (dumping off).
6. Busuk daun.
7. busuk Rhizoctonia (bottom root).
8. Bercak daun.
9. Virus mosaik.
PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN.

Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari. Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun. Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam.

Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah :
1. Pencucian dan pembuangan kotoran.
2. Sortasi.
3. Pengemasan.
4. Penympanan.
5. Pengolahan.
Article:
Budidaya Caisim

Tulisan ini dikirim pada pada Januari 11, 2008 4:12 am dan di isikan dibawah INFO HORTIKULTURA. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.


BERTANAM SAWI
Family Cruciferae
Deskripsi

Sawi (Brassica juncea) merupakan tanaman semusim yang berdaun lonjong, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop.

Syarat Tumbuh

Sawi dapat di tanam di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Akan tetapi, umumnya sawi diusahakan orang di dataran rendah, yaitu di pekarangan, di ladang, atau di sawah, jarang diusahakan di daerah pegunungan. Sawi termasuk tanaman sayuran yang tahan ferhadap hujan. Sehingga ia dapat ditanam di sepanjang tahun, asalkan pada saat musim kemarau disediakan air yang cukup untuk penyiraman. Keadaan tanah yang dikehendaki adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, dan drainase baik dengan derajat keasaman (pH) 6-7.

Pedoman Budidaya

PERSEMAIAN Sawi diperbanyak dengan biji. Biji yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Biji sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapangan, sawi terlebih dahulu harus disemaikan. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian. Setiap 1 ha lahan dibutuhkan 700 gram biji sawi. PENGOLAHAN TANAH Sambil menunggu bibit cukup umur untuk ditanam, tanah yang akan ditanami diolah dengan bajak atau cangkul, selanjutnya tanah itu diberi pupuk kandang sekitar 10 ton/ha, dihaluskan, dan dibuat bedengan-bedengan yang lebarnya 1 m dan panjang sesuai dengan keadaan lahan. Tinggi bedengan 10-20 cm dan jarak antarbedengan 35 cm. PENANAMAN Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 minggu sejak biji disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 30 x 40 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab.

Pemeliharaan

PEMELIHARAAN PENYIRAMAN Setelah tanaman dipindahkan ke lapangan, penyiraman perlu dilakukan. Sebaiknya penyiraman dilakukan dengan gembor yang halus lubangnya agar tanaman yang baru ditanam tidak rusak. Penyiraman ini dilakukan secara intensif pada pagi dan sore hari. PENYULAMAN Penyulaman perlu dilakukan apabila di lapangan tampak ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang sempurna. Hal ini dilakukan segera minimal seminggu setelah tanaman ditanam agar diperoleh pertumbuhan yang serempak. PENDANGIRAN DAN PENYIANGAN Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali. PEMUPUKAN Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung nitrogen. Setiap tanaman diberi pupuk sebanyak 3 gram atau 60 kg N/ha atau 3 kuintal ZA/ha.

Hama dan Penyakit

Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar.

Panen dan Pasca Panen

Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi : ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama. Pertumbuhan yang baik dapat menghasilkan 100 kuintal daun/ha.

About these ads

6 responses to “TANAM KETIMUN & SAWI

  1. bagaimana cara pengendalian hama…termasuk semut yang suka merusak tanaman lombok dan kacang panjang?…katanua ada kapur ajaib..dimana bisa didapat dan cara penggunaannya…?tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s